Kumpulan cerita pendek yang dibuat oleh Agustinus Wahyono, dan dipersiapkan untuk buku kumpulan cerpen "Penerbangan Dini".


























 
arsip-arsip
<< current


[STASIUN UTAMA]
Jala-Jala Karya:
antologi kedua <]
antologi ketiga <]
baru dimuat <]
bedah cerpen <]

esai-esai cerpen <]

INFO CERPEN <]
 
AGUSTINUS WAHYONO berasal dari kampung Sri Pemandang Pucuk, Sungailiat, Bangka. Pernah mencicipi bangku Arsitektur di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. 

Kebetulan beberapa cerpennya pernah dimuat di harian pagi BANGKA POS, SRIWIJAYA POS, SIJORI POS, harian sore SINAR HARAPAN, lembar INTERMEZO Berita Indonesia (Hongkong).

Kebetulan juga satu per satu cerpennya termuat di antologi bersama: "Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan" (Dewan Kesenian Sleman D.I.Y., 2001), Seekor Anjing Dengan Luka Di Tengkuknya (Balairung, 2002), antologi
cerpen pendek "Graffiti Imaji" (Yayasan Multimedia Sastra, 2002), "Batu Merayu Rembulan" (Yayasan Damar Warga, 2003).

Biodata lengkap, KLIK!






















ANTOLOGI CERPEN PENERBANGAN DINI
 
Thursday, August 14, 2003  
MERPATI SALJU DAN PAKAIAN BARU

Matahari lepas sisa-sisa tengah hari masih garang memanggang kampung kami. Lolongan serangga meradang diantara ketiak dedaunan rumbia di sekitar sungai pemandian pinggir jalan yang dibentengi papan-papan lapuk serta berjamur.

Ah, nyaman sekali, gumanku seraya menyelamkan badanku lagi.

Telah lebih satu jam aku berenang, berendam dan menyelam di sungai dingin nan bening agak dalam itu untuk menenggelamkan kegerahanku selepas mencangkul di kebun, dan di saat orang-orang sedang bekerja, berkebun atau di rumah masing-masing.

Entah kapan datangnya, seekor merpati telah bertengger di papan penyekat bagian atas. Bulunya seputih salju. Tak ada setitik warna selain putih. Kepalanya menoleh ke mana-mana. Mungkin kebingungan, antara mau minum atau tidak, lantaran aku sedang mandi. Mungkin malah sedang mengawasiku atau keadaan sekitar sungai.

Wah, peliharaannya siapa yang nyasar ke sini, gumanku keheranan.

Selama aku hidup di kampungku ini, tak pernah kulihat seekor pun merpati seperti itu. Pesona saljunya membuat hatiku bertambah sejuk dan dingin. Nyaman sekali. Namun aku was-was kalau-kalau merpati salju ini adalah merpati jadi-jadian, semacam siluman buaya putih dalam legenda orang-orang kampung kami.

Sebentar aku menoleh ke kanan-ke kiri, dan ke belakangku. Kuperhatikan setiap gerakan air, wujud-wujud asing dalam air, gerakan di semak-semak sekitar sungai. Kupasang daya pendengaranku sebaik-baiknya untuk menangkap suara-suara yang mencurigakan bahkan yang dapat mengancam jiwaku di sungai itu. Kupasang pula penciumanku setajam-tajamnya, agar dapat memilah antara bau air dan bau anyir, antara bau sungai dan bau binatang buas.

Burung ini sendirian, pikirku.

Aku jadi tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Kecuali, soal pakaianku. Ya, mana pakaianku? Aku tidak menemukan pakaianku yang tadi kusampirkan di sebelah merpati salju itu. Yang tampak justru seperangkat pakaian lain, padahal tadi juga belum ada. Aku mencari-cari sambil mengingat-ingat lagi, di mana tadi kuletakkan pakaianku. Tetap tak kelihatan pakaianku.

Waduh, ‘gimana nih! Siapa sih yang lagi iseng! Masak aku pulang cuma memakai celana daun rumbia kayak jaman Adam dan Hawa yang hanya berpakaian dedaunan?

“Pakai ini saja, beres. Nggak usah mikir aneh-aneh,” ujar merpati salju itu.

Astaga! Dia bisa berbicara! Mati aku, ini betul-betul burung jadi-jadian!

“Enak aja! Kamu sangka aku ini silumankah? Ngawur!” sergahnya.

Aku terdiam seketika. Koq dia bisa tahu isi pikiran dan perasaanku saat itu.

“Aku tahu koq apa isi kepalamu dan hatimu,” katanya lagi.

Oh... Aku tak mampu beranjak dari tempatku. Tubuhku tak mampu bergerak.

“Udah, tenggelamkan saja bengongmu di sungai itu! Cepatlah berpakaian sebelum orang-orang datang dan menertawakanmu,” suruhnya lagi. Kemudian merpati salju itu membelakangiku, dan kembali asyik menolah-nolehkan kepalanya.

Aku beranjak dari kesejukan air sungai pemandian itu, menuju tempat pakaian itu tersampir. Kugapai, dan kuperhatikan pakaian baru itu. Warnanya biru langit. Tidak terlalu tebal atau tipis. Bahannya sangat halus dan lembut. Tak berserat. Tak berpori-pori. Tak ada bulu-bulu tanda pernah dipakai. Tak ada jahitan. Kuraupkan ke mukaku, tercium semerbak bunga mawar. Lalu kubentang. Ternyata modelnya perpaduan dari kemeja, kaos dan piyama. Juga celananya. Baru kali ini aku melihat pakaian model begini!

Aku belum segera memakainya. Aku membolak-baliknya lagi sembari mengingat-ingat siapa yang pernah memakainya. Aku tidak mau ditipu oleh burung itu. Aku memang miskin, tak mampu beli pakaian saban bulan, apalagi seperti yang sedang kupegang ini. Aku tidak mau tiba-tiba aku dikepung orang sekampung gara-gara dikira telah mencuri pakaian serba bagus dari toko swalayan. Jangan sampai, sedang segar-segarnya badan ini menikmati sedapnya sungai bening, malah berikut-berikutnya aku digebuki habis-habisan.

“Kenapa masih bimbang? Masih curiga?”

“Iya, aku curiga! Terus terang, aku nggak nyaman kalau memakai barang curian sebagus-semahal apapun barang itu. Aku tidak bangga dengan barang-barang kayak ‘gitu. Apa hebatnya aku luntang-lantung memamerkan barang curian. Mending barang milik sendiri. Biar butut, asalkan bukan hasil mencatut sana-sini. Nah, jujur aja, ini barang curian, kan?”

“Bukan! Itu benar-benar bingkisan istimewa dari langit!”

“Sumpah?” tantangku seraya mengulurkan tangan.

“Sumpah? Sumpah demi sarang, demi pepohonan, demi perbukitan, demi gunung-gunung, demi awan-awan, demi angkasa raya? Aku tak’kan bersumpah!”

Iya, ya, apa artinya sumpah. Sumpah yang mengatasnamakan Sang Maha Kuasa dan di bawah kutuk Kitab Suci jika melanggar pun rasanya cuma omong kosong yang direkayasa menjadi seolah-olah, selanjutnya menganggap Sang Mahakuasa itu tak lebih sebuah patung di perempatan jalan dengan seragamnya. Tetap saja korupsi menjadi tradisi. Tetap saja uang kesejahteraan rakyat hanya dijadikan bancaan para pejabat yang tamak. Tetap saja kolusi menjadi elemen birokrasi. Tetap saja hukum menjadi milik orang-orang yang berkuasa. Tetap saja sumpah hanyalah gema angin pegunungan. Tetap saja merampok secara intelektual dan konstitusional. Lantas, apa gunanya “sumpah”-ku yang sederhana itu tadi. Ah, kampungan sekali aku ini!

“Baiklah, baiklah, aku pakai,” kataku kehabisan akal untuk mengusutnya. Mau tak mau daripada malu, aku harus memakai pakaian bawaan merpati salju itu. Jangan sampai tiba-tiba ada gadis-gadis atau ibu-ibu datang di saat aku sedang tanpa busana.

“Eeee... memakainya hati-hati dong! Pakaian itu tidak akan pernah ada di toko-toko, butik atau bengkel busana macam apapun. Ini pakaian istimewa!”

Cerewet amat sih! Baru jadi merpati aja, cerewet sudah nggak ketulungan! Lha gimana kalo bener-bener jadi burung beo atau kakak tua ya?

“Jangan membiasakan diri mengomel dalam hati! Tak sehat!” tegurnya.

Alamak! Aku terpaksa bungkam lagi. Mulut diam. Perasaan diam. Pikiran diam. Aku hanya berkonsentrasi dengan pakaian baruku. Sebentar lagi tubuhku telah berpakaian.

Wah, pakaian ini terasa sejuk di kulitku! Ini pasti pakaian mahal. Seumur-umur baru kali ini aku merasakan pakaian yang amat sangat berbeda dari yang biasa kupakai.

“Terus, pakaianku yang tadi di mana?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku buang. Aku buang jauh-jauh,” ungkapnya jujur tatkala aku sibuk mengenakan pakaian baruku. “Karena itu bukan asli pakaianmu. Baju buruk, celana jelek. Memalukan! Nah, inilah pakaian barumu, milikmu yang asli. Tuanku di langit telah memberikannya untukmu. Sudah saatnya kamu berubah, hidupmu pun berubah.”

Aku masih heran. Kenapa kata-katanya tidak membuatku tersinggung, malah membuat hatiku tentram begini? Siapa pula tuan langit yang barusan disebutnya?

“Sudah selesai. Kini, pergilah, Burung baik,” kataku sembari mengarahkan telapak tanganku ke langit seusai aku berpakaian rapi. “Kembalilah ke tuanmu di langit sana!”

“Tidak, tuanku malah menyuruhku mengikutimu terus.”

Apa? Dia menolak? Gawat! Jangan-jangan mereka sengaja hendak menjebakku? Jangan-jangan semua ini adalah suatu persekongkolan.

“Hushyah!! Ayo, sana, pergi jauh-jauh!!” usirku dengan suara lebih keras.

Merpati salju itu tetap di sana. Dia memiringkan kepalanya, seolah-olah hendak memastikan pendengarannya. Seolah-olah dia tak percaya atas sikapku.

Aku tidak suka melanjutkan obrolan dengannya. Kucari kerikil atau sejengkal kayu di tepian sungai pemandian untuk melemparkannya ke arah merpati salju itu, agar dia mau pergi dan tak kembali lagi. Dapat. Tapi sebenarnya aku terpaksa mengusirnya. Sungguh, terpaksa. Sebab, aku tidak sudi dituduh sebagai pencuri merpati salju milik orang kaya.

“Pergi sana! Pulanglah kembali ke tuanmu!” usirku seraya siap melemparnya. Aku sudah kehabisan kesabaran. Apa boleh buat.

“Tidak! Tuanku malah menyuruh aku tinggal bersamamu. Percayalah.”

Aku tak peduli. Kulemparkan beberapa kerikil ke arahnya. Bertubi-tubi. Kerikil atau sejengkal kayu beterbangan dan akhirnya membentur papan. Klotak! Klotak! Klotak! Merpati salju hanya berkelit sedikit. Terbang sebentar. Lantas hinggap di tempat semula.

“Apa salahku sehingga kamu melempariku?” protesnya.

Aku tertegun. Iya, ya, apa salahnya? Dia sudah ngasih pakaian baru yang sangat bagus. Dia hanya duduk dan berceloteh menemani kesendirianku.

“Pergilah! Aku tak sudi dituduh pencuri burung milik orang kaya!”

“Kamu tidak mencuri, malah aku datang karena disuruh tuanku.”

“Iya, kau bisa bilang begitu. Tapi, orang kaya mana mau peduli. Mereka bisa membeli hakim, jaksa, saksi, kitab, meja hijau dan palu untuk menjebloskanku ke dalam bui. Mereka bisa merekayasa BAP, merekayasa kisah dan... pokoknya apaaaa saja.”

“Bukankah aku pun bisa bersaksi?”

Benar juga ya. Tapi bagaimana jika kesaksian itu dianggap sebatas kabar burung?

“Kabar burung, kabar burung! Kamu ini masih saja membiarkan dirimu ikut-ikutan berprasangka akibat kabar burung yang senantiasa melanda pergaulanmu!” tegasnya.

Bandel sekali unggas jinak satu ini. Sudah kuusir, kuserbu dengan kerikil dan kayu-kayu sejengkal, tetaplah dia tak sudi meninggalkanku. Tapi anehnya, setiap aku berusaha mengusirnya, hatiku justru terasa tidak nyaman. Entah kenapa.

“Ya sudahlah, terserah kau!” akhirnya aku menyerah. Sebab aku harus segera pulang sebelum dipergoki orang-orang kampungku.

Aku bergegas meninggalkan pemandian kampung kami itu. Aku pun sengaja tidak menghiraukan merpati salju itu. Kubiarkan dia mengikutiku dengan bertengger tenang di batang paculku, seperti kapten bajak laut dengan burung beonya.

Sebenarnya secarik rasa malu menyelinap dalam kalbuku. Betapa tidak. Aku seorang pemuda, berbadan tegap dan berwarna gelap, otot-ototku menyemburat, dan tampangku pun keras. Tapi, kini malah membawa seekor merpati, putih lagi! Wah, bisa-bisa malah disebut ‘banci’. Kalau membawa burung rajawali, ‘kan tampak lebih gagah.

“Sudah, sudah, nggak usah kuatir dicap ‘banci’ atau ‘nggak gagah’,” celetuknya.

Aku hanya bungkam. Merpati salju itu selalu saja tahu isi kepala dan hatiku. Bisa jadi nanti aku malah bakal kehilangan privacy. Aku tak sudi kehilangan privacyku.

“Privacy apa lagi?” komentarnya. “Kamu ini sibuk membentengi diri dengan privacy segala, padahal makhluk-makhluk buruk rupa saban waktu menonton aksimu, entah ketika kau asyik bergumul dengan berahi, dengan sakit hati, dengan kejahatan yang tak diketahui orang atau pula saat kamu mencuri bersama kawanmu!”

Habis deh! Ampun... Aku merasa diriku sudah tak bisa sembunyi di depannya.

Perjalanan kami telah memasuki jalan kampung. Aku terpaksa bersiap menahan malu. Beberapa orang telah tampak. Kakek-kakek, nenek-nenek, pemuda, pemudi, anak-anak. Mungkin baru pulang dari ladang, kantor, sekolah atau entah yang lainnya.

Astaga! Aku terbelalak.

Kubuka lebar-lebar mataku untuk memastikan pandanganku. Aku melihat orang-orang kampungku di sana. Masing-masing membawa hewan! Ada yang bertengger di pundak, di kepala, di tangan, di saku kemeja, bahkan keluar-masuk dalam mulut.

Kenapa hewan-hewan itu tidak dikandangkan atau disingkirkan saja? Apakah mereka sadar dengan keadaan mereka, ketidakberesan semua ini?

Ah, terserah deh. Sebab, toh aku juga sedang membawa seekor merpati. Bedanya, paling soal jenis hewannya. Selebihnya, nggak ada.

Aku tak peduli. Terus saja aku berjalan melewati mereka, menuju rumah kami. Di antara perbincangan mereka, ada seorang yang berkata “babi lu!” kepada orang yang membawa babi. Seorang lainnya bilang “anjing lu!” kepada orang yang membawa anjing. Atau bila kawan yang membawa kambing satunya bilang “sapi lu” kepada kawan yang memang membawa sapi, maka si pembawa sapi ini membalas “dasar kambing”. Anak-anak balita pun begitu leluasa mengucap kata “bangsat”, “bajingan” maupun “monyet lu”. Kata-kata dan berbalas kata seputar hewan yang biasa dan banyak berkeliaran di kampung kami. Kata-kata yang kini telah membuat telingaku seakan ditumbuk oleh palu!

“Aduh duh duh, Merpati mungil nan culun,” seloroh remaja pembawa sapi sewaktu aku melintas di depannya.

“Sapi!” balasku ketus, sebab tetanggaku itu telah melecehkan merpati saljuku..

Tiba-tiba merpati salju itu terbang dari paculku, dan pergi begitu saja. Tak pelak aku melihat-lihat sekelilingku. Ke atas. Ke samping. Ke sudut-sudut. Aku heran, kenapa dia tiba-tiba terbang entah ke mana, pergi tanpa pamit.

“Sapi sial! Gara-gara kau, lenyaplah merpati saljuku!” semprotku sambil segera meninggalkan remaja itu. Aku ingin mencari merpati saljuku. Aku ingin ia kembali.

“Merpati Salju! Merpati Salju! Di mana kau?” berkali-kali aku memanggilnya sembari berlari-lari serta mengamati tiap-tiap atap rumah, dahan-dahan pohon, awan-awan atau halaman rumah tetangga-tetangga.

Namun tetap tidak ada jawaban. Tidak jua kutemukan sosok makhluk berbentuk merpati salju itu. Aku terus berjalan cepat, menyusuri rumah-rumah dan kebun-kebun.

Ah, mungkin dia jadi pulang ke tuannya gara-gara ejekan tetanggaku tadi.

Di sela-sela kegiatanku mencari-cari di mana merpati salju itu berada hingga matahari tak lagi ganas mencabik kampung kami, sekonyong-konyong sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempatku. Beberapa orang keluar. Mereka menggerak-gerakkan badan. Kelihatannya mereka kecapekan atau butuh udara segar akibat perjalanan jauh.

Betapa terkejutnya aku ketika kulihat beberapa ekor merpati salju bertengger di atas mobil mereka. Mirip sekali dengan merpati salju yang tadi bersamaku.

A-ha! Barangkali mereka tahu perihal merpati salju itu. Barangkali merpati saljuku juga ada di situ.

Aku segera mendekati mereka.Hatiku gamang berbaur girang.

“Halo,” sapa mereka satu per satu. “Boleh kenalan?”

Mereka yang memulainya, dan perkenalan pun terjadi tanpa hambatan. Mereka mengajak ngobrol ini-itu seakan-akan kami telah berkenalan lama.

“Mmm...begini,” kataku tanpa menunggu lama-lama, “tadi, sebelum kita bertemu di sini, aku sedang asyik berbincang-bincang dengan seekor merpati salju seperti yang kalian punya itu. Tapi kini dia sudah pergi entah di mana.”

“Kok bisa?”

“Begini,” kataku terpaksa jujur. “Ada tetangga yang membawa seekor sapi. Dia ngata-ngatai, ‘aduh duh duh, merpati mungil nan lucu’. Jengkellah aku. Lantas kubalas saja, ‘sapi’. Biasalah, berbalas ejek. Eh, tiba-tiba saja merpati salju itu meninggalkanku.”

“Ooo... begitu,” tanggap mereka serempak.

“Itu gara-gara kata-katamu, bukan sekadar ejekan,” timpal seorang pria.

“Lho, aku tidak mengejek merpati saljuku!” tangkisku keras.

“Iya, iya, saya tahu,” sahutnya. “Tapi justru dia kecewa dengan reaksimu terhadap orang-orang. Seharusnya kamu tidak usah lagi ikut-ikutan mengucapkan kata-kata demikian pada orang-orang, meskipun mereka masih membawa-bawa makhluk-makhluk itu dalam pergaulan mereka. Kamu memang masih muda dan bergaul dalam lingkungan seperti itu, namun sesungguhnya kamu tak sama lagi dengan mereka. Kamu sudah berbeda. Lihat, bajumu saja malah seperti baju kami. Nih, lihat baju kami.”

“Iya nih, baju kita mirip sekali!” seru yang lain, dan disambung yang lain.

Oh! Apa yang tengah terjadi? Siapakah aku ini sekarang?

********
babarsariyogya, mei 2002

[Cerpen ini dimuat di harian sore Sinar Harapan, edisi Sabtu, 8 Juni 2002]

7:17 AM

 
PULANG

Kukuuuuuuruyuk...!

Tiba-tiba saja seekor ayam jago berkokok nyaring. Waktu kira-kira masih subuh.

Beberapa orang tampak terkejut. Mereka terpaksa bangun. Ada yang cemberut. Ada yang cuwek. Beberapa tertawa.

Aduh, siapa sih yang telah mengikutsertakan ayam dalam gerbong ini.

Kokok ayam jago itu pulalah yang telah membangunkan aku dari tidur-tidur ayam. Nyenyak tidak, terjaga pun tidak. Sebab kereta api Senja Ekonomi ini sedang sarat penumpang berhubung hari-hari liburan panjang. Suasana tidak mendukung tidur.

Biasa, bulan Juni memang bulannya orang liburan. Ada yang khusus berlibur, sedangkan yang lainnya akan mencari tempat bersekolah baru. Apalagi sebagian besar bersama dengan keluarga naik kereta ini. Atau, menjelang musim kawin orang Jawa.

Betul-betul padat sekali isi gerbong ekonomi.

Menekuk lutut pun sudah tak kuasa, lantaran benar-benar penuh nuh. Mana bau udara ruangan yang campur-aduk, baik itu bau keringat, bau badan yang tidak mandi dari kemarin, asap rokok, bau mulut belum sikat gigi, bau buah-buahan, bau parfum bercampur keringat malam, bau ayam dan lain-lain. Belum lagi kalau ada yang terlanjur kentut.

Isi gerbong telah penuh penumpang; antarorang sudah tidak ada sedikit ruang untuk sekadar bersimpuh dengan kaki memanjang. Bisa tidur sambil duduk tanpa bisa mengulet bebas, bahkan ada yang tidur sambil berdiri. Ruang gerak minimum!

Akibat lainnya, sejak berangkat dan singgah di beberapa stasiun kecil, tidak pernah dimasuki pedagang makanan atau pengamen. Padahal biasanya para pedagang sekaligus pengemis dengan beragam “kreativitas” selalu lalu-lalang dalam sepanjang gerbong kereta api kelas ekonomi marginal ini.

Kali ini memang tidak ada celah bagi mereka untuk bersirkulasi sambil menggendong jualan. Bukan masalah tidak peduli pada nasib perut mereka. Melainkan karena memang situasi penumpang yang sedang penuh-penuhnya. Merogoh kantong pun susah setengah mati. Sehingga setiap celah akan menjadi sangat berharga.

Kebetulan aku mendapat tempat duduk dekat jendela, berhadapan dengan seorang gadis. Ya, kemungkinan besar begitu.

Kulirik sedikit. Gadis berambut lurus sepanjang sampai bahu itu masih asyik memejamkan matanya. Kendati tidur, kemanisannya tidak redup. Entah siapa dia.

Sesekali dia terjaga hanya untuk mengganti kaset dan batere dari tas pinggangnya. Cuwek tak ketulungan. Sejak kami bertemu di gerbong itu, telinganya tidak semenitpun lepas dari earphone. Tidur atau tidak, walkman tak pernah berhenti.

Rupanya dia seorang penggemar Brentwood, kelompok band yang mengusung musik jenis jazz fusion. Aku tahu dari beberapa kaset yang telah digantinya. Introducing Brentwood, Brentwood Jazz Orchestra, Brentwood Jazz Quartet, The Best Symphony of Brentwood, The World’s Greatest Hymns of Brentwood dan seterusnya.

Tadi, sebelum ayam jago histeris tadi, dia sempat membuka matanya. Pandangan kami pun sempat bentrok. Sebagaimana kebiasaan santun, aku bermaksud memberi salam lewat sedikit senyuman. Dan lebih dari itu, gadis ini memang cakep. Ehm.

Maka jadilah aku sedikit tersenyum. Memancing senyumnya dengan senyumanku. Kalau di lain kesempatan aku paling sering memancing senyum lawan jenis dengan kata-kata basa-basi atau sapaan berbau banyolan, giliran kali ini aku hanya sanggup memakai senyum sebagai umpan.

Kupikir dia akan membalas. Dan kalau ia sudi membalas sapaanku melalui senyum manis terbaik milikku, mungkin itu awal yang tepat untuk berkenalan.

Senyum memang bisa jadi senjata atau ice breaker. Garis bibir yang akan melebar dan sedikit menekuk ke atas, itulah tanda sambutan positif sebelum masuk tahap basa-basi dan perkenalan hingga....

Namun, alamaaaak!

Tidak semilimeter pun garis bibirnya melebar. Arahnya tetap horisontal, sorot matanya tetap kosong.

Senyumanku hanya menyapa atmosfir gerbong. Orang yang duduk di sebelah gadis itu melirik ke arahku. Entah apa tanggapannya terhadap senyum tak terbalasku.

Ah, mungkin aku yang terlalu berharap dan dia memang cuwek, pikirku.

Sementara kereta terus melaju. Membelah kesejukan pagi.

Suaranya pasti telah membangunkan banyak penduduk yang bermukim di sekitar rel. Tapi mereka sudah terbiasa. Kecuali yang baru pindah ke daerah pinggiran rel.

Beberapa saat kemudian fajar mulai merekah. Ufuk timur memerah.

Kereta api yang kutumpangi ini sudah lewat pertengahan daerah Jawa Tengah. Kabut pagi masih terlihat menyelimuti bumi. Permadani hijau terbentang lebar. Kristal-kristal bening bak mutiara di pucuk pepadian. Kelihatan di sana itu sejuk dan lapang.

Wah, hamparan tumbuhan penghasil makanan pokok yang tidak pernah kujumpai di kota-ku, Sungailiat. Begitu ijo royo-royo 1).

Andai ini kereta berhenti sejenak untuk beristirahat sambil menikmati udara pagi yang lapang...Oh!

Tampak beberapa anak berseragam merah-putih meniti jalan setapak pembatas antarpetak sawah. Beberapa pak tani sedang nongkrong sambil merokok di dekat aliran air. Mereka belum mengayunkan pacul, sebab hari masih pagi.

***

Memang hari masih pagi untuk memulai membangkitkan angan-angan yang kemarin-kemarin kususun rapi di kolong Trim – tempat aku biasa mancing.

Masih pagi, karena aku belum sampai di kota tujuan. Masih pagi, karena aku belum tahu bagaimana situasi kota itu.

Kuingat kembali masa-masa terakhir di kampung halaman. Aku masih ingat ketika terakhir kali aku bermain dengan ombak pantai Rebo. Bersama Yudi, Daud, Pram dan kawan-kawan lainnya.

Noy, besok kami jemput ka gi ruma ka,” 2) kata Yudi malam itu sewaktu aku hendak pulang.

Aokla.” 3)

Kuingat begitu. Kuingat bahwa itu pertemuan terakhir kami.

Terakhir bagiku, tetapi belum bagi kawan-kawanku waktu itu.

Ya, belum yang terakhir bagi kawan-kawanku. Waktu subuh-subuh aku berangkat ke pelabuhan Mentok, ternyata siang harinya kawan-kawanku berkunjung. Mau mengajak main keliling kota seperti biasa selagi liburan panjang memungkinkan-nya. Jelas mereka kecele. Tapi manalah kutahu.

Aku memang samasekali tidak memberitahu kawan-kawanku perihal keberangkatanku menuju Jawa dalam rangka melanjutkan studi (melanjutkan studi atau meningkatkan gengsi keluarga? Atau, mengungsi? Atau sebaliknya, diungsikan?). Sebab, kepergian ke Jawa, bagiku, bukanlah salah satu topik yang cocok untuk dibicarakan. Tidak terlalu istimewa.

Malam harinya pun aku masih bersama mereka. Kumpul-kumpul, bermain gitar, pesta kecil, ngebir dan mengasapi udara dengan rokok. Genjrang-genjreng. Bersama menikmati kebebasan hingga tengah malam.

Aku tidak peduli apakah subuh nanti jadi berangkat meninggalkan Sungailiat dan kawan-kawan. Jadi atau tidak, yang penting bersenang-senang dulu.

Pulang dari sana pun aku masih mampir ke simpang empat kampungku, Sri Pemandang pucuk. Ada gerombolan anak-anak kampung sedang asyik menikmati malam. Aku pun bergabung. Tak ada rasa apapun bahwa aku akan pergi meninggalkan Bangka.

***

“Bang,” tegur Syamsudin di sebelahku, “sembile ge Abang nek pulang kampung? Kite lah nek punye propinsi lho.” 4)

Dak tau la sembile.” 5)

Abang ni la lame mua ka tinggel di Jawe ni,” sambung Fahrozak, “pekak ge cumen due kali pulang. Tu ge asak lime taun sekali, cem kek pemilu bai.” 6)

Dak tau ngape la.” 7)

Tu la, ka, Abang ni, men keliwat idealis.” 8)

Idealis macem mane ulik maksud ka ni, Din?” 9)

Men lum berhasil, lum sukses, lum punye uto bagus, lum punye bini cion, lum nek aben kek pulang setaon sekalik, ape begawe di Bangka.” 10)

Aku diam saja. Kubiarkan dia berbicara, mengumbar opininya.

Abang tu besak igak gengsi e.” 11)

“Entahlah, Din,” sahutku santai. “Men pulang dak mawak ape-ape, ase e dak pantes la tigebelas taon merantau.” 12)

Dek pantes ape e ge, Bang? Lebe mending macem ni bai, daripada Abang pulang mawak macem-macem. Belagak cem kek urang kayo, dek tau e barang hasil korupsi, manipulasi, jadi gigolo atau hasil bejuel narkoba.” 13)

Ah, budak Pangkal 14) satu ini bisa aja.

Memang belum sebulan aku mengenalnya. Waktu itu dia dan tiga kawannya, budak Pangkalpinang juga, baru dua hari menumpang tinggal di kos sebelah kontrakanku. Kami ketemu di warung bubur kacang hijau.

Kisahnya, aku sedang duduk menikmati sarapan semangkuk bubur kacang hijau. Keempat budak Pangkal itu masuk dan antarmereka berbahasa Bangka. Juga salah seorang dari mereka memakai kaos oblong bergambar pulau Bangka dengan merek Budak Bangka T-shirt. Ini dia, orang daerah pasti bangga dengan daerahnya.

Langsung saja kutegor “budak sekaben” 15) itu dengan bahasa Bangka pula. Begitulah awalnya sampai kemudian kami bertemu lagi di warung ini.

Abang ni sebenere begawe ape ge?” 16) tanya Fahrozak.

“Tukang sablon.”

Sablon gambar tempel, ape sablon baju kaos, Bang?” 17)

Due-due e la.” 18)

Cubela Abang tu buka usaha di Bangka bai, sape tau sukses.” 19)

Sela beberapa waktu, penjual bubur menawarkan jualan. Otomatis pembicaraan kami terpotong sesaat.

“Bubur atau mie rebus, Kang?”

“Tidak, Jang. Aku mau ngopi aja.”

“Tumben, tidak makan?” tanyanya lagi.

“Iya. ‘Ntar ngerepotin kamu, Jang,” jawabku sekenanya.

“Namanya juga usaha, ya harus mau repot.”

“Maka dari itu, aku tidak mau ngerepotin maneh 20).”

Penjual bubur bernama Ujang dan berasal dari kabupaten Kuningan Jawa Barat ini tidak bicara banyak. Segera dia membuatkan kopi sesuai pesananku.

Kembali kami berbincang-bincang soal apa saja, terutama tentang Bangka. Ya, apa lagi topik selain Bangka, yang menarik untuk kuketahui semenjak satu pelita lalu.

Sedenget agik kite nek jadi provinsi, ka, Bang.” 21)

Aok. Ku ge la maco di koran Kompas,” timpalku. “Ibukotae di mane, Din?” 22)

Kemungkinan besak di Pangkal.” 23)

Tu ge lum jelas be ka. Kate e agik ibukotae Belitung,” 24) sela Fahrozak.

Kami berlima semakin asyik dengan rencana provinsi itu. Bangka akan bergabung dengan Belitung untuk membangun sebuah provinsi baru berakronim: Babel.

Aku tergidik, mengingat kata “Babel” akan dipakai sebagai akronim provinsi baru. Dari buku tua yang pernah kubaca, Babel memiliki dua arti lain, yaitu chaos (kekacauan) dan confusion (kebingungan). Babel purba mengalaminya dan parah.

***

Stasiun Tugu jam 06.30 WIB. Bawaanku banyak sekali, meski sebagian besar sudah kukirim ke Bangka. Oleh-oleh berupa bakpia Pathuk dan salak Pondoh sudah pula kukirim lewat titipan secepat kilat. Janjinya cepat sampai.

Rencanaku, naik kereta api ke Jakarta dulu, ke pelabuhan Tanjung Priok. Baru kemudian menyeberang pulang ke Bangka naik kapal.

Sekarang aku siap naik kereta api Fajar Utama I kelas Bisnis. Tiketnya Rp.37.500,- memang terjangkau. Itu lebih baik bagiku. Ya, daripada satu gerbong dengan ayam atau ternak lainnya, dan semoga tidak duduk berhadapan dengan gadis super cuwek seperti kali pertama aku naik kereta api.

Ternyata hari ini memang keberuntunganku. Tanpa ayam dan gadis misterius. Aku sebangku dengan pasangan suami-istri asal Jakarta. Si suami bekerja sebagai developer. Pengalamannya segudang!

“Dulu, Mas Onoy,” katanya, “bisnis properti menjadi primadona. Pamor arsitek terangkat tinggi.”

Aku mendengar dengan seksama.

“Jaman itu, bukan kita yang mencari pekerjaan, tapi mereka yang mencari kita. Pinjam uang untuk dana mega proyek pun mudah. Jaminan gampang,” tambahnya.

“Waow, asyik bener berspekulasi!”

Ketika kereta yang kamitumpangi ini memasuki daerah Bekasi, beberepa proyek realestat tampak telah jadi kampung mati. Rumah-rumah tak terurus. Genteng runtuh. Halaman bertaman semak yang subur. Tak jauh dari situ, air tergenang; mirip kawasan rawa-rawa (atau memang dulunya rawa-rawa).

Bapak tadi masih terus menerangkan sambil menunjuk ke proyek mati.

Sementara aku membayangkan pembangunan di Bangka. Pembangunan berskala raksasa sedang dikerjakan. Proyek-proyek merata. Para insinyur tak lagi menganggur sambil main catur; tidak lagi ngelantur; tidak lagi ngeluyur tak teratur.

Membayangkan kampungku. Membayangkan rumah orang tuaku. Membayang-kan kebun-kebun yang tidak lebih daripada taman ilalang.

Membayangkan lapangan pekerjaan untukku. Membayangkan usaha persablon-an, tempat produksi dan outletnya. Membayangkan gaji karyawan. Membayangkan promosi. Membayangkan harga pesanan. Membayangkan laba. Sedap!

Membayangkan perkembangan kotaku, kampus-kampus, perusahaan-perusahaan. Membayangkan kebangkitan kaum intelektual muda.

Membayangkan laut biru, kapal keruk, kebun sahang, kebun kelapa sawit, kebun karet, home industry kemplang...

Aku membayangkan order datang bertubi-tubi di usaha kecil sablonku.

***

Kukuuuuuuruyuk!

Ayam-ayam jago peliharaan ayahku sudah menggugah hari, menggugah matahari, menggugah manusia, menggugah awan-awan, menggugah embun....

Inilah hari pertama aku bekerja di Sungailiat sebagai tukang sablon, dan dengan pesanan perdana: satu boks kartu nama milik tetangga sebelah yang datang semalam.

“Hari ini adalah hari baik untukku!” sapaku kepada dinginnya subuh.

*******
babarsari, Agustus 2000

Keterangan:
1) Hijau sana-sini
2) Noy, besok kami menjemputmu di rumahmu
3) Iyalah.
4) Kapan sih Abang mau pulang kampung? Kita sudah akan punya provinsi lho.
5) Tidak tahulah kapan
6) Abang ini telah lama sekali tinggal di Jawa ini, masak sih cuma dua kali pulang. Itu juga setiap lima tahun sekali, seperti PEMILU saja
7) Tidak tahu mengapa-lah
8) Itulah, Abang ini, kalau terlalu idealis
9) Idealis semacam apa pula maksudmu ini, Din?
10) Kalau belum berhasil, belum sukses, belum punya mobil bagus, belum punya istri cantik, belum mau pulang setahun sekali, atau bekerja di Bangka.
11) Abang itu terlalu besar gengsinya
12) Kalau pulang tidak membawa apa-apa, rasanya tidak pantas telah tiga belas tahun merantau
13) Tidak pantas apanya sih, Bang? Lebih mending seperti ini saja, daripada Abang pulang membawa macam-macam. Berlagak seperti orang kaya, tidak tahunya barang hasil korupsi, manippulasi, jadi gigolo atau hasil berjualan narkoba
14) Budak Pangkal = anak Pangkalpinang
15) Budak sekaben = anak-anak
16) Abang ini sebenarnya kerja apa sih?
17) Sablon gambar tempel/stiker, atau sablon baju kaos/kaos oblong, Bang?
18) Dua-duanyalah.
19) Cobalah Abang itu buka usaha di Bangka saja, siapa tahu sukses.
20) Kamu
21) Sebentar lagi kita akan punya provinsi, Bang
22) Iya. Aku juga sudah membaca di koran Kompas. Ibukotanya di mana, Din?
23) Kemungkinan besar di Pangkalpinang
24) Itu juga belum jelas kok. Katanya lagi ibukotanya Belitung.

[cerpen ini dimuat di Harian Pagi Bangka Pos, edisi Minggu, 3 September 2000]

7:16 AM

 
TEMPAT DAMAI DI ATAS PELANGI

Usai kunjungan khusus ke sebuah pabrik kaos oblong di Tangerang waktu lalu, kusempatkan diri singgah ke Bogor. Nyaris lima tahun aku tidak mengunjungi Kota Hujan ini, semenjak aku tidak lagi terlibat cinta dengan “seseorang”. Ya, hampir lima tahun, terhitung sejak kami memutuskan tali cinta yang, bagiku, percuma. Akhirnya kami sepakat berpisah dan bebas menentukan sendiri pilihan atas jalan-jalan kami.

“Mantan gadismu itu sudah menikah, Noy,” tutur kawanku beberapa waktu lalu.

“Lho, kapan?”

“Beberapa bulan setelah kalian putus. Mungkin gara-gara dia kecewa pada dirimu yang hanya suka pacaran tanpa pernah sudi menikahinya.”

“Ah, kau terlalu berprasangka.”

Mungkin benar, tampaknya aku lebih berani berpacaran saja ketimbang menikah. Tanteku sendiri pernah mencibir, “Kamu itu nggak berani kawin aja.” Aku malu sekali dibilang begitu. Tapi, jujur, aku memang takut. Sebab aku masih takut, ragu dan bimbang untuk memulai sebuah kehidupan baru yang disebut rumah tangga, keluarga baru. Aku takut kehilangan kebebasanku. Hal itu berlanjut hingga usiaku melewati 30 tahun – tapi sebagian orang bilang 30 tahun belum terlalu tua. Ketika kini aku berani, justru belum kusiapkan gadis lainnya.

Betapa kini aku kembali ke kota yang telah sedikit-banyak memberiku kenangan. Masih seperti dulu, saban aku sampai, gerimis selalu menyambut kehadiranku. Itulah keramahannya hingga kini tetap terasa. Aku suka sekali. Aku selalu ingin segera bertemu dengannya. Menyentuhnya. Memilin jarum-jarum cair yang tak pernah mengenal musim. Dia akan merengkuhku dengan dekapan basahnya. Kebasahan yang menghangatkan pertemuan yang membuatku senantiasa rindu pada Bogor.

Tapi itu hanya kerinduan pada hujannya, pada sesuatu yang tak akan pernah menantangku “nikahi aku kalo emang kamu berani”.

Hari ini, seingatku, aku belum membuat janji untuk bertemu “seseorang” alias gadis yang pernah selama bertahun-tahun bersemayam dalam hatiku itu. Kebetulan aku pun tak tahu berapa nomor HP-nya dan alamat emailnya. Berarti, aku bisa memberi kejutan padanya. Ya, itu keinginanku. Paling tidak, aku bisa menengoknya. Tidak lebih, dan memang aku tidak punya maksud-maksud mengusut benang cinta yang telah lama kusut, terputus, hanyut. Yah, meskipun aku masih sangat mencintainya sampai detik ini. Mencintainya, karena dialah cinta pertama saya yang paling menggebu-gebu.

Benarkah aku tak merindukannya lagi?

Kendaraan-kendaraan di sekitarku tetap melaju, menembus guyuran gerimis. Mereka terbiasa begitu. Sementara sembari berlindung di halte, kurapatkan jaketku demi menolak sergapan dingin nan basah. Sebab, aku hanya suka dingin tanpa dicampuri basah. Dan, kubiarkan pertanyaan seputar “seseorang” itu merambati jiwaku.

Ehm, mungkin anak-anaknya sudah dua atau bahkan lebih. Mungkin rumahnya sebesar istana mungil yang asri dan penuh kehangatan. Mungkin suaminya tampan, berwibawa dan kaya raya. Mungkin seorang direktur sebuah perusahaan termasyhur.

Ya, dia memang seorang gadis yang beruntung, dan suaminya justru lebih beruntung lagi. Di dunia ini, pria itulah yang paling berbahagia, karena memperoleh istri yang sebaik dia. Dulu aku ingin seberuntung suaminya kini. Dulu aku ingin bisa memegang erat-erat gadis itu selamanya. Tapi dasar memang bukan keberuntunganku.

“Ah!” desahku pendek. Ada setumpuk sesal menindih batinku.

Cukup lama kunantikan gerimis reda. Pun kendati reda, sesaat saja akan kembali mencurahkan kebasahannya. Kupikir, tak mengapa. Inilah sebabnya kenapa disebut Kota Hujan. Apalagi sewaktu kutengok langit lapang terbentang dengan bongkahan-bongkahan mendung melintas. Aku berjalan kaki diiringi aroma tanah basah kota ini. Sejuk.

Sekitar separo jalan menuju ke rumah “seseorang” itu mendadak kulihat pelangi menukik. Pita sutera berwarna-warni itu melengkung, cembung membentuk busur dan kedua ujungnya menjejak di kaki langit dengan jarak renggang yang sukar kuhitung.

Waow, indah nian, guman takjubku.

Seketika aku teringat masa kecilku, saat saya pertama kali melihatnya, saat pertama kali ibuku berkisah tentang pelangi. Waktu itu saya bersama ibu sedang duduk di teras depan. Barangkali hanya pikiranku yang saat itu tiba-tiba terhanyut menuju masa lampau melalui pelangi.

***

“Pelangi itu adalah selendang para bidadari, yang digunakan sebagai jembatan untuk turun ke bumi,” cerita ibuku dulu.

“Bidadari itu siapa, Bu?”

“Mereka adalah putri-putri kahyangan yang cantik jelita tiada tara.”

“Cantik seperti Ibu?”

Ibuku hanya tersenyum. Aku pun tersenyum. Tapi senyum ibuku manis sekali.

“Kenapa selendang itu nggak basah, padahal ‘kan habis kena air hujan? Terus, kenapa cuma munculnya sehabis hujan, Bu? Kok nggak hari selain hujan?”

Ibuku tidak menjawab. Entah kenapa. Atau, barangkali saja ibu kebingungan mencari kata untuk membuka pintu pengertianku. Untuk menerangkan dengan dalil-dalil ilmu alam, mana mungkin di seusiaku yang belum genap lima tahun itu aku sanggup memahaminya.

“Jumlah selendang itu,” lanjut ibuku tanpa hirau pada pertanyaanku tadi dan aku pun tidak peduli pada pertanyaanku sendiri, “ada tujuh dengan warna berbeda. Selendang itu tersusun menjadi jembatan angkasa. Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang dipenuhi jalan permata, tanah-tanah selembut sutera, rumah-rumah mirip istana, sungai susu, telaga madu, tanpa matahari yang menggigit kulit dan tanpa bulan yang menyeramkan, langit berwana-warni, dan para penghuninya tidak suka marah-marah atau berkelahi. Indah dan penuh kedamaian. Tempat itu disebut kahyangan.”

“Kahyangan itu planet apa, Bu?” tanyaku seolah terbawa keindahan warna pelangi yang menjelma sebagai selendang serta kehebatannya menjadi jembatan menuju tempat bernama kahyangan yang, kata ibuku tadi, indah dan penuh kedamaian.

Lagi-lagi ibuku tersenyum. Ibuku tahu bahwa aku cuma tahu kisah-kisah tentang planet-planet yang sering muncul dalam film-film kesukaanku.

“Kahyangan itu surga,” jawab beliau seraya mencengkram pipiku dengan gemasnya. Aku mengaduh, karena memang sakit. Sakit-sakit menyenangkan, karena cengkraman itu adalah bahasa kasih tersendiri. Aku hafal sentuhan kasih ibuku.

Waktu itu kupikir, salah satu planet yang sering muncul dalam film-film adalah kahyangan. Pantas saja orang-orang bumi berlomba-lomba mengungsi ke planet itu, berperang demi planet, dan bahagia di planet itu. Pasti planet itulah kahyangan, seperti yang disebutkan ibuku. Tak salah lagi, pasti planet seperti dalam film-film itu.

Hari-hari berikutnya, setiap habis hujan, aku selalu mencari ibuku. Bertanya lagi tentang selendang dan kahyangan. Dan ibuku selalu memberi waktu untuk berkisah. Entah dari mana ibuku memperoleh bahan-bahannya. Bagiku, ibuku adalah guru sejatiku, yang mengajarkan apa saja untuk memuaskan kehausan pengetahuan kecilku.

Aku suka sekali dengan dunia atas langit, dunia kahyangan ciptaan ibuku itu, atau planet kahyangan seperti kisah-kisah dalam film-film kesukaanku. Aku membayangkan sebuah istana, taman dan segala kemeriahannya. Aku membayangkan para penghuninya, robot-robotnya. Aku membayangkan permainan-permainan yang biasa kumainkan bersama kawan-kawan kecilku. Anak-anak di sana pasti baik hati dan tidak jahil. Aku membayangkan makanan yang serba enak, buah-buahan yang bertaburan. Aku membayangkan udara sejuk dan mentari tak jahat menyengat.

“Banyak nggak sih orang di planet kahyangan itu, Bu?”

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana.”

“Aku ingin ke sana, Bu.”

“Ya, Ibu selalu berdoa untukmu, supaya kelak kamu bisa ke sana.”

“Doa itu semacam piring terbang yang bisa membawaku ke planet surga, ya?”

“Bukan.”

“Kata Ibu tadi, hanya orang baik yang akan bisa ke sana. Kalau doa pun bisa mengantarkan aku ke sana, lantas kebaikan itu untuk apa, Bu?”

“Kelak kamu akan mengerti, untuk apa doa dan untuk apa pula kebaikan.”

“Sekarang aja, Bu, jangan kelak,” rengekku.

Waktu itu kupikir, apa sih susahnya memberiku pengertian. Aku sudah jenuh dengan janji-janji orang dewasa. Dulu ketika kakak-kakakku pergi berenang, aku tidak diajak. Kemudian ayah membujukku dengan seutas janji yang tak pernah terwujud. Aku dikibulin. Kenapa orang dewasa justru mengajariku berjanji palsu?

“Kahyangan itu alangkah indahnya, Nak.”

“Tapi kok di planet kahyangan itu ada perang-perang, Bu?” serobotku lagi. “Apa memang orang baik itu harus berperang dulu demi mempertahankan planet kahyangan itu, Bu?”

Ibuku tidak menyahut. Soalnya ibuku tidak suka menonton film-film kesukaanku. Ibuku lebih suka menonton acara Mana Suka Siaran Niaga yang isinya barang-barang belanjaan melulu.

***

Aku tersadar dari kisah usang ibuku tatkala aku teringat kembali pada arah ayunan kakiku. Entah mengapa, ketika kini aku diperkenankan untuk melihat pelangi lagi, lagi dan entah hingga kapan lagi, betapa aku mengkhayalkan berada di planet kahyangan, tempat yang penuh kedamaian itu seperti kisah ibuku dulu. Aku ingin ke sana dalam keabadian, bukan kefanaan bumi yang menyesakkan dadaku ini.

“Jalan menuju tempat yang penuh keindahan dan kedamaian hati yang abadi?” aku bertanya sendiri. “Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Begitukah?”

Pertanyaan itu mendadak buyar sewaktu kudengar suara sebuah mobil bakal melintas. Aku memperhatikan jalan sekitarku, apakah ada daerah genangan air. Aku harus menghindari batas genangan air, agar tidak kecipratan. Kemudian kulirik mobil itu. Tampak pengendara dan penumpangnya adalah keluarga. Ada bapak-ibu, nenek-kakek dan anak-anak. Sementara suara unggas bersahutan di antara pepohonan sekelilingku.

“Betapa pelangi mempunyai tugas suci. Suci. Sebab, kahyangan adalah suci. Begitukah?”

Tiba-tiba keraguan mengepung diriku. Aku mulai ragu, apakah aku sanggup meneruskan perjalananku menuju rumah mantan gadisku itu. Dari relung hatiku perlahan-lahan muncul semacam rambu-rambu. “Hanya orang-orang yang hidupnya baik saja yang akan bisa sampai ke sana,” kata-kata ibuku yang mendadak terngiang-ngiang kembali.

Realitas masa lalu bukan berarti bisa kupakai untuk menyingkirkan realitas masa kini. Dulu dia adalah pacarku, tetapi cincin kawin dilingkarkan di batang jemari manisnya oleh pria lain. Aku tak berkutik. Kami tak punya ikatan apa-apa. Kami tak punya komitmen apa-apa. Aku harus terus-menerus menyadari itu. Aku tidak boleh meresahkan keharmonisan keluarga mereka, sebagaimana ibuku tak pernah ribut kecil dengan mendiang ayah menyangkut masa lalu. Tapi aku masih sangat mencintainya.

Daun-daun renta berguguran diterpa angin basah. Aku berhenti sejenak. Keraguan telah menghentikan langkahku. Aku memandang sekitarku bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Ya, mimpi buruk. Kerinduanku yang telah terkubur, tiba-tiba bangkit, dan hendak menghasut perasaan dan akal sehatku. Masa lalu rupa-rupanya hendak menyeretku dan akan menyesahkanku ke dalam kehidupan yang bukan lagi milikku.

Walah, kenapa kesepian dan kerinduan semu ini telah menyesatkanku ke masa lalu? Waduh, celaka sekali kalau aku tak segera mengendalikan emosi dan pikiranku ini!

Sungguh aku kuatir jika pertemuan itu nantinya justru hanya sandiwara lucu sebabak tapi sanggup menyayat luka lama bahkan kembali melukai aku dan dia. Betapa kurasa konyol sekali. Sia-sia tapi malah bisa menjadi musibah berikutnya. Aku tidak ingin diriku terjebak romantisme usang yang sia-sia. Aku tidak mau kesia-siaan itu menciptakan pelangi semu yang sudah bukan milikku. Apa hebatnya lagi jika lantas dituduh sebagai perusak suasana surga dunia yang telah terbina dalam istana cinta orang.

Tidak. Aku tidak mau merampok surga itu. Aku tidak mau menjajah kahyangan itu. Perempuan itu harus menikmati hidup fananya sendiri dengan kebahagiaan surgawi yang sanggup dinikmatinya bersama keluarga barunya. Mungkin pelangi selalu ada di rumah mereka, menjadi kahyangan itu. Itu milik mereka.

Aku membelok ketika sampai di sebuah pertigaan. Seketika sore itu juga aku mengurungkan keinginanku menengoknya. Aku belum siap berjumpa dengan dia sekeluarga. Orang-orang di sekitarku tak peduli padaku; orang asing.

Ah, biarlah semua yang terjadi tetap seperti adanya di masa lalu, pikirku.

Sudah cukuplah di masa lalu aku berada pada waktu dan tempat yang keliru. Setelah semua terjadi dulu, aku tidak ingin melintasi jalan menuju tempat itu lagi. Sekarang bukan waktunya untuk mengutak-atik soal kesalahan. Aku tahu pasti bahwa tidak akan ada kedamaian di sana bila luka masa lampau kubawa serta ke masa kini.

“Hanya orang-orang yang hidupnya baik yang akan bisa ke sana,” kata ibuku yang sangat kuingat. Orang yang hidupnya baik, bukan penuh lukalaralukalama masa lampau. Aku tidak tengah berada di masa lampau. Aku sedang menuju masa-masa di depanku.

Plak! Kutendang kencang-kencang sepotong ranting patah di tepi jalan yang tengah kulalui, seolah ingin kutendang jauh-jauh ‘luka’ itu. Sementara kesejukan mendaki tangga-tangga kedinginan, menembus pakaianku dan mulai menjamah pori-poriku. Aku kian memeluk diriku sendiri supaya kehangatanku dapat merata dan mengusir jari-jari dingin yang berusaha mengusap pori-pori tubuhku melalui sela-sela jaketku.

Sekarang aku tahu, ke mana aku harus melangkah di antara sisa-sisa titik-titik gerimis yang mengantarkan langkahku kembali menuju sebuah halte. Seorang pria sedang duduk santai sambil membaca koran.

“Permisi, Mas,” sapaku pelan, “saya mau nanya.”

Pria tersebut meresponku dengan menurunkan korannya, kemudian menatapku seraya tersenyum.

“Kalau ke terminal, naik angkot yang mana, ya, Mas?”

“Naik yang ini aja, Mas,” jawabnya dengan langsung melihat ke samping, ke arah jalan. Kebetulan sebuah angkot terlihat hendak menuju halte.

“Terima kasih, Mas,” kataku sembari turun dari halte dan melambai sebagai isyarat kepada sopir angkot bahwa aku mau menumpang angkotnya.

“Ya.”

Aku segera naik angkot itu, tapi orang tadi tidak.

Di dalam angkot ini aku terus teringat pada ibuku di Bekasi dan beberapa saudaraku yang masih tinggal dengan beliau. Tiga bulan aku belum mudik, semenjak aku pindah bekerja di Madiun. Aku ingin mengunjungi ibuku selagi mungkin ada pula pelangi singgah di sana. Paling tidak, di sana sudah menunggu keponakan-keponakanku yang lucu dan, bagiku, cukup mewarnai kegamanganku.

Mentari perlahan muncul di antara gumpalan-gumpalan awan. Cahaya tipisnya menembus jendela angkot dan mengusap-usap pipi kasarku. Hangatnya sehangat jemari ibuku yang selalu membelai pipiku seraya mendongeng tentang pelangi, “Di atas pelangi itu, di atas langit, di situlah letak suatu tempat yang bernama kahyangan.”

*******
Untuk seorang kawan, R. Taufan Rahardian

[Cerpen ini dimuat di harian sore Sinar Harapan, edisi Sabtu, 7 Juni 2003]

7:09 AM

 
SEORANG PRIA MENCARI TULANG RUSUK

“Demi mencari tulang rusuk, kamu keluar dari pekerjaanmu? Bodoh sekali!”

“Aku? Bodoh sekali? Apa alasanmu berani bilang gitu?”

“Meninggalkan pekerjaan hanya untuk mencari tulang rusukmu, itu bodoh sekali!”

“Apakah itu bodoh, mencari tulang rusuk?”

“Ya, bukan itu maksudku, Ji.”

“Terus?”

“Ah, susah sekali ngejelasin ke kamu.”

“Itu artinya kau bodoh.”

“Enak aja. Daya tangkapmu itu lho, Ji, yang susah.”

“Kau mangkir. Kau sendiri tak berhasil menjelaskan. Argumentasimu payah.”

“Ah, sudahlah!”

“Ya sudah. Aku juga sedang nggak punya waktu meladenimu. Buang-buang waktu. Lain waktu saja kita diskusikan lagi. Oke?” tukas Oji sembari langsung ngeloyor pergi.

Mencari tulang rusuk. Itulah yang memang sedang digiatkan Oji beberapa waktu terakhir. Tak pelak menjadi berita heboh bagi orang-orang yang mengenalnya. Sebelum-sebelumnya, dari pagi jumpa pagi dan dari senja sua senja, Oji hanya memeras waktunya demi karier, status sosial dan duit. Ia seakan tak peduli pada proses hidup umum: lahir, belajar, kerja, kawin dan akhirnya mati. Tidak ada yang harus dihebohkan. Sederhana.

***

Mencari tulang rusuk. Di sebuah gedung mewah, sebuah kantor sewa. Ke sana Oji mengarahkan kakinya. Ia memasuki lantai pertama dengan langkah tegap.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang resepsionis.

“Oh, barangkali bisa. Apakah Mbak tahu di mana tulang rusukku?”

“Tulang rusuk Anda? Di tubuh Anda, nggak ada?” tanya sang resepsionis yang manis itu sambil menunjuk ke perut Oji.

Oji melihat perutnya sekilas. Dirabanya sebentar. Lalu kembali menatap perempuan itu. Ia menggelengkan kepalanya. Perempuan muda yang aduhai itu pun tersenyum.

“Saya juga tidak tahu, Mas. Maaf. Sebaiknya Anda mencarinya di tempat lain.”

Kesempatan pertama gugur. Oji tidak tahu harus bagaimana. Namun semangat membara sedang membakar hasrat Oji. Ia melangkah menuju sebuah ruang lobby. Dia duduk di sofa yang khusus diperuntukkan bagi para tamu. Diletakkannya tas semi kopernya di sebelah sofa. Matanya mencari-cari. Mungkin tulang rusuknya berkeliaran di sini. Seorang perempuan melintas, dicegatnya dengan sopan.

“Maaf, saya sedang mencari tulang rusuk saya. Mbak tahu tulang rusuk saya?”

“Lho, hilangnya di mana, Mas?”

“Saya nggak tahu. Makanya saya nanya ke Mbak. Mbak tahu, nggak?”

“Saya apalagi. Maaf lho, Mas, saya bener-bener nggak tahu. Atau, begini. Mas lapor ke polisi aja. Bilang bahwa Mas kehilangan tulang rusuk.”

“’Ntar repot biaya nebusnya, kalau mereka berhasil menemukan tulang rusukku.”

“Iya, ya. Ehm. Eh iya, Mas telpon ke 108 aja deh.”

“Sudah. Tapi mereka tidak tahu. Malah nanya, apakah telah saya asuransikan.”

“Ya, sudah, saya pun nggak tahu, Mas.”

Apa boleh buat. Ketidaktahuan toh tak harus dipaksakan demi sesuatu yang tidak diketahui. Toh semangat masih membara untuk mengembara dalam gedung tersebut. Toh gedung itu pun luas. Oji tak perlu patah arang. Sampai pada jam makan siang. Ia tahu bahwa pada jam-jam segitu para karyawati akan keluar sejenak untuk makan siang.

“Apakah Mbak tahu tulang rusuk saya?”

“Tidak.”

“Ayolah, jujurlah, Mbak.”

“Iya, bener. Swear!”

“Tapi mata Mbak yang indah itu mengatakan hal yang berbeda.”

“Ah, yang bener? Mas terlalu memuji. Mata saya memang indah kok.”

“Nah, iya, ‘kan. Mengakulah. Apakah Mbak adalah jelmaan tulang rusuk saya?”

“Sungguh, Mas, bukan saya. Saya pun tak tahulah di mana tulang rusuk Mas itu.”

Nihil. Begitu pula sewaktu ia kemudian masuk ke gedung-gedung sejenis, dan keesokan harinya hingga berminggu-minggu. Juga ketika ia menyisiri mal-mal, shopping center, swalayan, butik, kafe, showroom, fashion show, dan lain-lain. Hasilnya tetap nihil.

Pernah ada perempuan yang berani memberi jawaban berbeda melalui hubungan telepon. Itu pun gara-gara Oji menempelkan beberapa pamflet dengan tulisan besar-besar “SEORANG PRIA MENCARI TULANG RUSUK. Hubungi nomor telepon ini”.

“Ooo… tulang rusuk yang itu,” tukas seorang perempuan dengan nada genit.

“Mbak tahu?

“Ya, jelas dong. Saya sudah dewasa lho, Mas,” nadanya semakin genit.

“Ini dia! Nggak sia-sia deh saya sebarin pamflet. Kapan saya bisa melihatnya?”

“Kapan… setelah lewat jam kerja saya aja, Mas. Tapi, Mas beraninya di mana?”

“Maunya, Mbak?”

“Di Hotel Megalangit jalan Bebas Hambatan Cinta. ‘Gimana?”

Oji bingung. Masak sih melihat tulang rusuk harus di hotel.

***

Mencari tulang rusuk. Ke lembaga urusan pertemuan tulang rusuk. Ya, gagasan yang jitu. Hati Oji berbunga-bunga. Mukanya seketika terbinar-binar. Dia membeli beberapa koran dan majalah yang memberi diri sebagai jembatan penghubung antara lelaki dan jelmaan rusuknya. Dicarinya semua alamat redaksi media cetak itu.

Oji merinci kondisi fisiknya. Tinggi badan, berat badan, golongan darah, lingkar pundak, lingkar pinggul, lingkar jidat, soal kecacatan fisik, kesukaan, dan lain-lain. Ukuran-ukuran tersebut harus dipasangnya, agar para perempuan dapat mereka-reka sendiri apakah ukuran mereka tepat untuk disandingkan dengan Oji. Tak lupa Oji memberikan foto terbaiknya, baik secara close up maupun seutuhnya.

“Tipe tulang rusuk yang bagaimanakah yang Anda dambakan?”

“Yang sesuai dengan saya dong. Coba lihat ukuran saya dalam formulir tersebut.”

“Kalau kami bandingkan secara matematis, angka yang mendekati ukuran Anda itu ada pada beberapa perempuan, termasuk janda setengah baya dan seorang nenek-nenek.”

“Ah, bagaimana bisa begitu banyak tulang rusuk saya?”

“Emangnya tulang rusuk Anda ada berapa? Coba hitung.”

Oji meraba tulang rusuknya. Benar juga ya, batinnya.

“Anda merasa kehilangan sebelah mana?”

Sebelah mana ya, pikirnya. Oji menggelengkan kepala.

“Bagaimana dengan mereka-mereka ini? Anda merasa siapa yang tepat dipasangkan ke badan Anda,” kata orang itu seraya membeberkan beberapa foto perempuan yang juga mendaftarkan diri di lembaga tersebut. Ada yang alim. ada yang seronok.

“Beri kesempatan saya mencocokkan diri. Boleh saya bawa semua?”

“Nggak bisa begitu dong. Emangnya pakaian, bisa dicoba dan diganti lagi.”

***

Mencari tulang rusuk. Sebuah surat meluncur ke meja kerja Oji di rumah. Surat dari sebuah biro konseling urusan penemuan tulang rusuk. Isinya begini:

“Tulang rusuk Anda sebenarnya tidak hilang. Percayalah. Dia masih berada dalam diri Anda. Bukan di mana-mana atau ke mana-mana. Percayalah. Untuk memperolehnya, jangan dengan bertanya sana-sini atau coba sana-sini, sebab itu berbahaya. Percayalah. Bahayanya, pencarian yang membabi-buta bisa membuat Anda salah dapat. Bahaya. Jika Anda nyasar ke kebun binatang, niscaya Anda bakal repot. Repotnya? Ya mungkin sekali seandainya ada seekor monyet yang mengaku dirinya sebagai tulang rusuk Anda.”

Lalu muncul lagi surat sejenis dari biro konseling lainnya.

“Kenapa Anda bingung mencari? Kenapa Anda memilih bersusah-payah menabrak tembok hanya demi sebatang tulang rusuk? Begini. Kami punya saran. Sebaiknya Anda istirahat saja dulu, seperti Adam yang menemukan tulang rusuknya telah menjelma menjadi Hawa ketika Adam terbangun dari lelapnya. Anda harus dalam keadaan yang benar-benar siap menerima tulang rusuk Anda. Sebab kalau tidak siap, tulang rusuk yang Anda nantikan itu bisa berubah menjadi tulang rusak. Mengerikan, bukan?”

Surat kali ini membuat kepala Oji dipenuhi tanda tanya. Ia tidak tahu apa maknanya. Maka ia langsung menelepon biro konseling tersebut.

“Memang benar. Dia akan menjelma ketika Anda tidur, bukannya setelah bangun.”

“Artinya?”

“Tunggu saatnya dan biarkan dia ada pada saat yang tepat. Percaya saja.”

“Kapan tepatnya agar saya bisa percaya ucapan Anda?” tanya Oji penuh harap.

“O, kami tidak tahu. Anda sendiri yang harus tahu kapan saatnya Anda siap.”

“Kalau saya tahu, ngapain musti repot-repot nanya Anda. Kalau ternyata Anda tidak tahu, ngapain Anda berbusa-busa menggurui saya.”

Klik! Oji memenggal percakapan itu.

Omong kosong, batin Oji. Entah sudah berapa banyak biro semacam itu yang hanya bisa mengumbar teori usang. Kebanyakan makan teori! Coba aku mendatangi seorang konselor yang terkenal dan sering dipuja-puji di media massa.

“Sebaiknya Anda berdiam diri, berdoa dan minta kepada Tuhan,” saran seorang konselor ternama itu suatu hari.

“Apakah Adam dulu juga berdoa dan meminta-minta?”

Iya, ya, pikir sang konselor. Tapi ‘kan nggak ada salahnya meminta. Tapi. Adam juga nggak meminta atau mengemis-ngemis. Tapi, ya semacam usaha begitulah. Tapi, pria ini sudah berusaha mencari-cari bahkan pakai pasang iklan diri di mana-mana.

“Saudara Oji sebaiknya memperluas pergaulan dan komunikasi. Barangkali saja di antara para gadis kenalan Saudara itu ada yang benar-benar jelmaan tulang rusuk Saudara.”

Pelecehan! Ini sama dengan hendak mengatakan bahwa aku ini kurang pergaulan. Dari dulu aku bergaul sana-sini. Kini, bergaul lagi. Keburu tua dalam bergaul nih.

***

Mencari tulang rusuk. Sampai-sampai beberapa kali mimpi pun hanya dipenuhi tulang rusuk yang berganti-ganti wajah. Dari yang mirip para penjaja tampang di mal-mal hingga seperti yang saban hari menjual tampang dalam iklan-iklan media massa.

Ah, setiap malam tulang rusukku berubah wajah. Ini sudah nggak beres!

Oji tak lagi menggubris pada mimpinya. Setiap bangun tidur, ia kembali pada pola yang pernah terprogram. Bangun pagi, mandi, sarapan hingga bangun esok paginya lagi. Itu cukup menyenangkan, ketimbang mengikuti selera orang-orang mengenai pencarian tulang rusuk. Pencarian yang melelahkan. Bangun tidur tidaklah untuk berlelah-lelah.

Ketika melewati ruang tamu, ia menemukan sepucuk surat tergeletak menggoda di atas meja. Sepucuk surat untuknya. Langsung dibukanya. Intinya, Oji diminta bekerja kembali, karena posisi dia belum tergantikan, dan beberapa rekan sekerjanya, yaitu para wanita, merasa kehilangan semenjak Oji pergi. Alangkah Oji terharu.

Pagi itu ia menghubungi tempat dia pernah bekerja. Ia menyanggupi bekerja kembali. Ia pun sudah bosan terlalu lama menganggur hanya mencari tulang rusuk yang tak jua menampakkan diri. Dengan bekerja, pencarian tulang rusuk dapat ditangguhkan.

“Kamu mau bekerja lagi, Ji? Emangnya tulang rusukmu sudah ketemu?” tanya kawannya pada saat mereka berpapasan di pertigaan gang kampung sempit mereka.

“Biarlah pekerjaan ini yang sementara menjadi tulang rusukku, menyangga hari-hariku. Toh dia cukup handal dalam hal pemenuhan kebutuhan perutku. Semoga daya tangkapmu tidak payah lagi,” sahut Oji sembari buru-buru pergi ke kantornya.

*******
babarsariyogya, juli 2002

[cerpen ini dimuat di harian Sijori Pos, 10 November 2002]

7:07 AM

 
KETIKA KASIH HARUS MEMILIH

Sekarang Onoy tidak lagi berdiri di antara karang pantai Krakal, Yogyakarta. Ia sedang berada di antara batu-batu pantai Sanlochu, Sungailiat, yang terus-menerus diterjang amukan air laut dan terpaan angin.

Sekarang, di pantai Sanlochu ini ia tidak tengah berduaan dengan Retnoningsih, gadis Jawa yang begitu lekat dengan segala perilaku kejawaannya. Ia tengah berduaan dengan Rosalia, gadis Pangkalpinang yang belum lama ini dekat dengannya.

“Apakah Bang Noy masih sulit melepaskan bayang-bayang gadis Jawa itu?” tanya Rosalia sewaktu Onoy usai berkisah tentang serpihan-serpihan masa lalunya.

Onoy tidak menyahut. Ia hanya melempar-lemparkan kerikil di antara karang.

“Bang, ini bukan Krakal atau Parangtritis. Ini Sanlochu. Ini bukan Jawa. Ini Bangka. Ini bukan Jogja. Ini Sungailiat.”

Jogja?

***

Setiap kata “Jogja” melintas di depannya atau singgah di telinganya, serta-merta mengingatkan Onoy pada Retnoningsih, gadis Jogja yang pernah dikenalnya ketika dia merantau ke Jawa. Letak rumah gadis itu tidak seberapa jauh dengan kontrakan Onoy. Jaraknya kira-kira satu setengah kilometer.

Cukup satu tahun hubungan mereka lumayan “dekat”. Dekat bukan saja lantaran letak rumah mereka. Dan, suatu malam Minggu terakhir kalinya, jam setengah delapan ia berkunjung ke rumah Retnoningsih. Waktu itu, seperti biasa, malam Minggu dan jam segitu Ningsih – panggilannya – masih asyik dengan keluarganya. Biasanya juga jam-jam segitu mereka sudah selesai makan malam. Jadi, kalau tidak di ruang keluarga, mungkin Ningsih sedang mencuci perkakas makan tadi.

Kali itu Ningsih memang sedang menunggu Onoy sembari bersendagurau dengan keluarganya. Waktu Onoy mengetuk pintu rumahnya, Ningsih-lah yang langsung bangkit untuk membukakan pintu.

Ningsih, Ningsih, bisik batin Onoy. Di antara banyak gadis Jawa yang telah terpesona oleh trend gaya hidup konsumtif dan hedonis, kau masih tetap setia dengan suasana hangatnya keluarga Jawa-mu. Kau selalu bersahaja dengan pakaian yang tidak terimbas mode. Rambut sepanjang punggung kauikat rapi. Budi bahasamu santun. Ah, andai suatu saat kelak...

“O, Mas, to,” katanya dengan senyum pembuka yang termanis untuk malam ini. “Mau di teras saja, atau di dalam, Mas?”

“Lho, ya terserah Tuan rumah, maunya di mana,” jawab Onoy.

“Di teras saja, ya, kebetulan juga lampunya sudah diganti baru.”

Onoy mendongakkan kepala, melihat lampu teras. Ya, terang. Mungkin kemarin-kemarin putus.

“Tunggu sebentar, Mas, aku ambilkan minum dulu, ya.”

Onoy mengambil posisi duduk, sementara Ningsih masuk ke dalam.

Di pintu gerbang pagar, tiba-tiba mobil taksi berhenti. Sepasang orang muda keluar. Ternyata mas Joko – kakak laki-lakinya Ningsih, dengan pacarnya, teman kuliahnya.

“Aku tidak mau kau mengungkit masa laluku itu lebih lanjut!” kata gadis itu agak keras. “Kau mau saja mendengar gosip murahan itu. Lagian, cowok kok suka ngerumpi juga.”

“Dengar dulu, Lea,” tukas mas Joko.

“Dari tadi sudah kudengar,” potongnya. “Kata-kata kecurigaan macam apa lagi yang berusaha kaujejalkan pada lubang telingaku?”

“Kau masih penasaran,” sambung Lea lagi, “dengan siapa saja orang-orang masa laluku? Penasaran dengan pergaulanku telah mencapai gawat seberapa? Penasaran tentang reputasiku? Apa lagi, hah? Ada gunanya masa laluku itu bagimu? Apakah kau tidak punya masa lalu juga? Kupingku cuma dua, mana mungkin sanggup menampung ribuan pertanyaan interogasimu itu.”

“Ya, kamu benar,” kata mas Joko, “kamu memang sudah mendengar kata-kataku, namun masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri. Aku bicara satu kata, kamu bicara sendiri seribu kata. Kamu tidak fair!”

“Tidak fair apa pula?”

“Tentang masa lalu yang masih ada di masa kini. Siapa pun dia, kamu begitu hati-hati menyimpannya. Apapun motivasimu, puncaknya adalah mencari keuntungan pribadi. Entah itu materi, rasa malu atau pun kebutuhan lainnya!”

Tegas sekali kata-kata itu. Bahkan teramat keras bagi telinga halus milik para perempuan umumnya. Tapi entahlah untuk seorang gadis bernama Lea – mahasiswi perantauan itu.

Selanjutnya Onoy tidak tahu lagi, karena tiba-tiba dari arah belakang....

“Hush, ora pareng nguping!” tegur Ningsih seraya menyenggol pundak Onoy.

“Ups, sorry, aku tak sengaja mendengarnya,” Onoy tersipu-sipu karena kepergok.

Serta-merta Onoy mengalihkan perhatiannya pada Ningsih yang sedang membawa baki. Dibantunya Ningsih meletakkan bawaannya. Segelas sekoteng panas, sepiring bakpia, sepiring tape goreng, tahu isi, tempe bacem dan beberapa salak pondoh. Onoy menikmati segala pelayanan itu.

Ah, betapa lembut serta santun gadis Jawa satu ini, guman batin Onoy.

Namun di hari lainnya mulai tampak ketidakcocokkan mereka. Hanya gara-gara hal sepele. Misalnya tidak bisa memenuhi ajakan Onoy untuk menemani Onoy ke toko buku Social Agency membeli buku-buku baru yang sedang dibicarakan banyak kalangan sastrawan dan kelompok peduli masalah sosial-politik. Atau, selalu menolak setiap ada undangan diskusi, semisal bedah buku. Ningsih juga tidak menyukai acara-acara pentas sastra. Ningsih yang selalu menggugat apabila Onoy bergaul dekat dengan kawan-kawan perempuan, meskipun masih terhitung saudara sepupunya Ningsih sendiri. Sampai suatu kali Ningsih menuturkan bahwa orangtuanya tak bisa melepaskan Ningsih ke luar pulau Jawa lantaran Ningsih adalah anak bungsu dan kedua kakak laki-lakinya telah memiliki rumah masing-masing. Ningsih didaulat keluarganya untuk tetap berada di rumah mereka.

Dan sekarang...

Ah, sebenarnya tak sampai hati aku berkata jujur padanya, batin Onoy.

Terlalu berat bagi Onoy untuk memberitahukan rencana kepulangannya ke Bangka dalam rentang waktu yang tak terbatas. Entah kapan ada waktu untuk kembali ke Jawa. Karena Onoy ingin memulai penghidupan baru di kota kelahirannya.

Ningsih memang sudah memahami profesi Onoy. Tetapi perihal keinginan Onoy untuk membuka ladang kerja baru di Bangka, belum pernah Onoy mengungkapkannya. Sebab Ningsih pernah pula tidak memberi ijin ketika Onoy mengutarakan niatnya berliburan satu bulan ke Bangka.

Makanya, kalau kini benar-benar Onoy akan menetap di tempat asalnya, apakah Ningsih rela melepaskan kepergian Onoy? Apakah Onoy pun rela meninggalkannya? Berarti Onoy akan kehilangan pesona budaya adiluhung yang tersisa di antara simpang-siur budaya gado-gado?

Tetapi budaya adiluhung dan kebutuhan perut sering tidak seiya-sekata. Sering bertolak-belakang. Onoy tidak punya pilihan lain atas masa depannya sendiri, perutnya sendiri. Juga, cinta saja tak’kan sanggup mengenyangkan perut. Onoy harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, terutama karena dirinya seorang laki-laki.

Dan soal budaya adiluhung yang masih terpancar dalam perilaku keseharian gadis Jawa ini, bukan berarti tinggal itu ahli waris tunggalnya. Onoy percaya di Bangka pun masih ada, mungkin masih bejibun. Semoga. Pasti.

Ah, Ningsih... Andai jarak Jawa-Bangka cuma sejauh Sungailiat-Pangkalpinang... Andai kau mau kuajak pindah ke Bangka...

Onoy tidak bisa menunggu lama. Bangka lebih menjanjikan harapan masa depan baginya, meski hanya berpendidikan diploma tiga. Ditambah selembar bukti keterampilan berupa surat keterangan pengalaman kerja.

“Ningsih,” cuma itu yang awalnya meluncur dari lidah Onoy.

Ningsih membalas tatapan mata Onoy.

Rasa iba dan sayang begitu menggelayuti hati Onoy. Berat rasanya. Tetapi harus dikatakan. “Aku harus pulang, membangun masa depan di sana,” ujarnya.

Ningsih terkejut. Ningsih tidak menyangka.

Onoy bertambah iba. Tetapi ada kekuatan yang kembali membantu Onoy untuk berani memutuskan tindaklanjut hidupnya. Bukan perasaan. Bukan kebingungan. Bukan tanpa pernah bisa menentukan sikap terbaik. Keberanian untuk bersikap. Laki-laki harus punya sikap. Terlebih ikatan formal suatu komitmen sakral belum terjadi.

***

Keberanian itu pula yang akhirnya mengembalikan ia ke kampung kelahirannya, Sri Pemandang pucuk, yang ditinggalkannya selama belasan tahun. Kampung kecil yang terletak di sepanjang jalan dari luar Sungailiat menuju Pemali ini telah memberi aneka warna dan rasa dalam awal-awal hayatnya. Di kampung ini banyak kisah pembentukan dirinya yang tak habis dikupas dalam satu buku tebal.

Selama belasan tahun ia pergi, tak sekali pun ia pulang. Menjenguk sesaat pun tak dilakukan. Orang-orang kampung itu tahunya bahwa Onoy masih hidup. Itu saja. Sementara ia justru terombang-ambing oleh badai krisis jati diri, cinta, dan krisis moneter melanda dan meluluhlantakkan perekonomian masyarakat dan berimbas dengan pemutusan hubungan kerja.

Ya, Onoy mengalami masa-masa mengambang antara berstatus karyawan dan tidak ada pekerjaan. Waktu itu bisnis properti tiba-tiba mati, proyek-proyek jadi peti mati. Dinding-dinding tak beratap mirip kuburan-kuburan usang. Harga-harga material menjulang melebihi ketinggian gedung-gedung jangkung mencakar langit. Banyak bank jadi bangkrut. Banyak konglomerat terjerat hutang beserta bunga-bunga hutang. Orang-orang kaya yang sebenarnya kaya hutang, sampai-sampai bisa menyelam di dalam kubangan kredit, akhirnya ditempeleng habis-habisan oleh badai krismon itu.

Onoy memang tidak terbelit kredit dan hutang trilyunan rupiah. Sebab Onoy cuma karyawan biasa. Cuma seorang buruh bangunan. Cuma seorang pekerja kontrakan untuk menggarap pembangunan perumahan kelas menengah-bawah (meski ternyata juga dibeli oleh orang berduit banyak untuk investasi).

Lalu dia pindah ke Jawa, ke Jogja. Tidak untuk jadi pelajar atau pun pengajar. Kecuali untuk memulai penghidupan yang layak. Terlebih, ia menghindarkan diri dari wabah “busung lapar” di kota besar. Dan, di sanalah ia terlibat dalam sebuah kisah yang melibatkan hati dan rasa orang lain, yaitu seorang gadis Jawa bernama Retnoningsih itu.

***

Sekarang ia tengah dipandangi oleh Rosalia yang masih diliputi kepenasarannya.

“Bang, atas dasar apa Abang ingin mendekatiku?” tanya Rosalia. “Iseng-isengkah? Pengisi waktu-kah? Pelampiasan sebuah kenangan dan harapan yang terpenggal-kah?”

Onoy diam. Lalu ia memandang hamparan laut biru lapang.

“Apakah aku hanya hendak Abang jadikan jembatan penghubung antara masa lalu Abang dengan masa kini, bahkan mungkin sampai masa akan datang, masa ketika tenaga tinggal sepotong saja?”

Masa lalu? Tampaknya Onoy sedang mengolesi impiannya dengan susu dan madu cinta masa lalu. Cinta telah membuat Onoy hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuatnya selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi candu, membelenggu proses kreatifnya dan membuat kualitas dirinya mandul. Cinta yang membuat dirinya lupa daratan, yaitu lupa bahwa dia masih muda dan punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan dirinya.

Masa lalu tidak membuatnya maju seperti sekarang, yang menapakkan kakinya ke sebuah kantor yang cukup bonafid di kotanya. Masa-masa itu memang penuh pemasungan intelektual. Keberanian tidak ada, kecuali ketakutan dan kekhawatiran terhadap perasaan dan sikap orang lain. Perasaan itu begitu kuat membelit kapasitasnya sebagai laki-laki, dan kini masih terasa menjeratnya.

Onoy masih belum menyahut. Dalam hati ia hanya bisa berkata, “Maafkan aku, Ros, sebab aku gagal mengenyahkan hantu masa lalu.”

“Apakah aku adalah wujud sebuah peribahasa ‘tak ada rotan, akar pun jadi’. Iya, Bang?”

Onoy tidak hendak menyahut, mengelak atau memberi pengertian. Yang tiba-tiba menyeruak dari kabut pikirannya justru ucapan seorang kawan, “Kalau kau sudah menguburkan sosok masa lalumu, biarkan dia tenteram di sana. Andai kau biarkan jiwamu berbalik mundur dan pikiranmu menggali kuburan itu, tinggal tunggu saatnya giliran kau yang akan terjerumus sendiri di situ. Sosok masa lalu itu bisa menjelma menjadi ulat yang siap memakan buah-buah kebaikanmu, bahkan cikal-bakal buah itu.”

“Bang!” tegur gadis itu. “Ini realita, Bang. Realita bahwa sekarang Abang ada di Bangka, saat ini sedang bersama aku di Sungailiat, di pantai Sanlochu. Bukankah kita hidup di masa sekarang dan akan menuju masa depan?”

Onoy tidak sanggup bicara apa-apa. Rosalia semakin tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Onoy, kecuali ia merasa Onoy tidak menyimak. Ia merasa Onoy tidak menghargai keberadaannya saat itu. Betapa sedih hatinya.

“Bang, di dekat Abang adalah aku, bukan masa lalu, bukan gadis Jawa itu. Abang harus realistis. Cobalah Abang pikir lagi,” tandas Rosalia yang kecewa. Lantas ia segera meninggalkan Onoy seorang diri di atas batu karang yang digempur ombak. Ia tidak bisa berlama-lama dalam kebisuan sosok pria ini. Ia harus realistis; jika memang tak ada tanggapan lagi, tak ada guna ia mempertahankan hubungan mereka. Apa boleh buat.

Realistis? Berpikir realistis? Relevansi dan kontekstual? Onoy mengernyitkan dahi. Tapi kenapa hantu masa lalu itu tak jua sudi menjauh dan berlalu.

Onoy tersentak. Ia merasa tiba-tiba tergugah dari tidur panjang dalam dekapan masa lalu. Bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap meneruskan perjalanannya ke depan? Bukankah ia telah berani meninggalkan masa lalu demi tujuan baru. Toh gerbang menuju jenjang kemantapan karier sudah sekian tapak dilaluinya. Bukankah watak dan kesantunan adalah ungkapan jiwa yang bersenyawa dengan hati nurani, bukan semata-mata hasil ciptaan suatu adat-budaya sukua atau daerah tertentu?

Ah, alangkah dungunya aku! Onoy mendesah setelah menyadari sesuatu. Segera ia bangkit. Ia harus mengatakan sesuatu pada Rosalia. Kemudian ia melihat sekelilingnya tanpa menoleh ke arah Rosalia.

“Kau benar, Ros. Aku memang tidak realistis. Tubuhku ada di sini, tapi jiwaku masih saja mengembara di masa lalu, menikmati cumbuan-cumbuan semu masa silam.”

Namun Rosalia tidak ada lagi di situ. Suara manusia lainnya pun tak terdengar. Kecuali resah angin pantai yang mengipasi rasa bersalah dalam diri Onoy.

*******
babarsariyogya, 2002

[Cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 7 Juli 2002]

7:05 AM

 
PAK DHARTO DAN MALING

Orang-orang menganggap Pak Dharto bukan sekadar guru yang melulu berurusan dengan sekolah dan buku. Lebih dari itu, pak guru yang bersahaja ini paling tidak bisa duduk diam saja. Kerajinan, keterampilan, kebaikan dan kesabarannya telah membuat orang-orang di kampung mengangkatnya sebagai salah satu tokoh teladan. Setiap ada acara, mungkin orang kawin atau anak sunatan, Pak Dharto selalu diminta tampil ke panggung, memberikan kata-kata bijak bestari.

“Assalammualaikum…,” katanya setiap akan memulai dan menutup ‘pidato’-nya. Ia pun selalu berkopiah. Begitu khas, dan ia selalu disambut meriah orang-orang muslim di kampungnya. Sebab Pak Dharto bukan orang muslim.

Pak Dharto memang seorang guru lanjut usia. Masa baktinya telah selesai sekitar lima tahun silam, lalu ia memperpanjang masa kerjanya. Karena ia masih bersemangat mengajarkan kebaikan, masih merasa punya tanggungan dan masih terlalu berharga. Istrinya membantu mencari nafkah dengan membuka toko kelontong kecil di sudut pasar. Sedangkan anaknya berjumlah enam orang, ada yang sudah bekerja dan ada pula yang masih sekolah.

Sebagai seorang pekerja keras, Pak Dharto mengisi hari-harinya dengan penuh kegiatan. Dari pagi hingga siang hari, dan dari sore sampai pukul delapan malam dia mengajar. Penyakit berat tak pernah menyerangnya, kecuali flu rutin yang mengganggu pipa nafasnya. Setiap pagi ia akan bersin sebanyak hampir sepuluh kali, bisa lebih. Namun belum pernah terlihat ia terkapar di kamar akibat sakit apapun.

Bekerja dan malamnya tidak lantas terlelap. Soal ronda di kampung, Pak Dharto paling sering. Tapi belum tentu pemuda kampung keliling siskamling. Setiap malam, di bawah pohon kelapa puyuh depan rumah, dia pasti sudah duduk di situ meneropong situasi. Tapi ia tidak pernah mengeluh, tidak pula bersungut.

Suatu malam, ia duduk di tempat ‘tunggu’nya. Jam dua dini hari. Kampung dalam keadaan sepi sekali. Kendaraan pun tiada yang lewat. Sungguh-sungguh senyap, seperti kampung mati. Tiba-tiba dari arah samping kirinya ada dua pemuda berlari-lari. Salah seorang memikul karung sarat muatan. Isinya ayam.

Wah, ini maling jelas tak berperikemanusiaan. Bukannya kerja selagi badan bujang, malah maling.

Pak Dharto menatap tajam. Kedua maling tersebut tidak melihat keberadaannya. Di seberang jalan, di depannya, kedua maling itu berbelok. Ada suara “keok, keok” tapi tidak nyaring. Spontan Pak Dharto menyorotkan lampu senternya ke arah mereka. Karena begitu gugupnya, maling yang membawa barang curian dan kebetulan berada di belakang, terjatuh. Masuk bandar. Gedebug! Kedua maling itu semakin lari kalangkabut. Pak Dharto mengejar. Sendirian saja mengejar dua pemuda itu.

Sesampainya di dekat hutan karet, Pak Dharto menghentikan pengejaran. Dia menyadari sesuatu.

Lho, aku ini sendirian, dan aku mau ngapain terhadap mereka, pikirnya.

Pak Dharto berbalik kembali, pulang. Dia sempat mengenali kedua maling tadi.

***

Kejadian-kejadian malam yang ia saksikan bukan itu saja. Kebiasaan Pak Dharto duduk sendirian di malam buta memang membuatnya dapat mengenali siapa-siapa yang beraksi pada malam-malam tertentu. Beberapa kali ia memergoki mereka. Dia kenal, karena orang-orang itu bukan orang jauh. Masih satu kampung. Para maling pun sungkan bila bertemu Pak Dharto di siang hari. Akibatnya, tidak ada orang kampung yang tidak menghormati Pak Dharto.

Pak Dharto memang sederhana. Dia tidak pasang wajah seram sewaktu berhadapan dengan seorang pemuda yang kepergok sedang beraksi semalam. Atau kepada seorang pemuda yang telah mencuri telur-telur ayamnya, juga kepada pemuda yang telah menggaet jemuran keluarga pak Dharto. Dia tidak berlagak seperti polisi atau hakim. Dia tetap seorang guru yang bersahaja. Tidak banyak bicara, tapi tangan begitu ringan melakukan kebaikan.

Bukan cuma rumah mereka yang dijadikan sasaran maling. Toko kelontong mereka pun dibobol maling. Waktu itu kebetulan tidak dijaga oleh anak laki-laki Pak Dharto, karena kemalaman di rumah. Pagi-pagi, saat toko hendak dibuka, ternyata sudah dibobol duluan. Dua juta raib dalam semalam, ketika krismon sedang gencar-gencarnya. Karuan saja Pak Dharto sedih, prihatin. Sedangkan anak-anaknya jengkel, muak dan sakit hati.

“Pak, maling itu malah menuliskan kalimat “memang orang seperti kalian yang sesuai jadi target” di belakang toko,” ujar anak Pak Dharto.

“Biarkan mereka membongkar kebobrokan moral mereka,” jawab Pak Dharto tenang.

“Lho, tapi ‘kan mereka sudah merugikan banyak orang. Pantasnya mereka itu ditembak mati saja, Pak,” protes anak lainnya

“Apalagi yang suka minta duit secara paksa di toko kita itu, Pak. Badannya muda, sadis, sok jagoan, padahal isi otaknya kosong. Malas sekali. Buktinya, bekerja malas, berlagak punya duit. Men dak diberi duit, maunya ngamuk. Bikin malu dan bikin sakit hati saja. Orangtuanya sungguh tidak bertanggung jawab atas moral anaknya,” gerutu Handi, yang bertugas menjaga toko dan sering “ditodong” oleh preman lokal.

“Kalau mereka dibiarkan hidup, bakal berapa lagi orang yang akan menderita dan menangis tua,” lanjutnya.

Pak Dharto menarik nafas sebentar. Ia mau memahami keluhan anak-anaknya. Karena Dia sudah mengalami susah-payahnya mengumpul uang untuk modal usaha, lalu berputar lagi terus. Bukan untuk menimbunnya di bank luarnegeri. Bukan pula untuk mendirikan istana megah-mewah. Dia didik anak-anaknya supaya bisa mandiri dan tetap berkreasi. Sebagai orang tua, beliau tidak rela anak-anaknya menjadi penjahat, apapun beratnya badai krisis ekonomi.

“Kalian harus mengerti, bahwa jangan sebasing menghukum mati seseorang. Nyawa itu mutlak wewenang Allah. Kalian harus tahu, masa depan para maling itu sudah pasti akan sangat suram. Namun apabila mereka berubah, bertobat dan mau bekerja, niscaya mereka akan bahagia, “jawab Pak Dharto, “justru kamu harus mendoakan mereka, kiranya Allah membuka selubung hati nurani mereka, sehingga mereka dapat kembali hidup dengan baik dan diridhoi Allah.”

“Tapi, Pak, orang seperti itu tidak punya hati nurani untuk bertobat. Dikatakan sebagai manusia, kok kayaknya mustahil. Masak sih manusia beradab itu berperilaku begitu.”

“Stop! Opini kalian cenderung menjadi kutukan. Kata-kata kalian sangat tidak membangun. Itu justru tidak benar, Nak. Tetaplah doakan orang-orang seperti itu, sabar. Bukankah kasih itu sabar?”

Tidak ada anak-anaknya yang berani protes lagi, karena mengenal tabiat Pak Dharto, yang lebih mementingkan kebaikan bagi orang lain daripada menghakimi secara tidak manusiawi. Dan anak-anaknya menghormati keputusan yang terbaik dari Pak Dharto.

***

Suatu minggu siang seorang pemuda berkunjung ke rumahnya. Pak Dharto menyambut dengan kesahajaannya. Waktu itu pak Dharto sedang asyik memberi makan ayam di kandang yang lapang. Pemuda ini melihat ayam-ayam kampung peliharaan Pak Dharto yang tidak seberapa banyak, namun terawat. Ayam-ayam dapat sebebasnya bermain di kandang terbuka, yang hanya dibatasi oleh pagar kayu yang rapat. Tidak terlalu kokoh, karena pernah beberapa kayu pagar berhasil digergaji pencuri, meski tidak berhasil menemukan letak tidur ayam-ayam.

Selesai dengan kegiatannya, Pak Dharto menuju sumur untuk membersihkan tangan dan kaki. Kemudian mereka menuju ruang tamu. Mereka berbincang-bincang. Akrab.

“Oh iya, mari kita makan, Nak Bujang,” ajak Pak Dharto yang kebetulan belum makan siang, “tidak usah malu-malu, kita ini masih bersaudara satu kampung,”

“Tapi seadanya lho, Nak Bujang,” sela istri Pak Dharto.

Biasanya, kalau ada tamu, anak-anak tidak ikut beramai-ramai satu meja. Sebab ukuran ruang makan dan meja cuma memuat lima orang. Anak yang tertua saja yang ikut satu meja dengan mereka.

“Wah, ngerepotin saja,” kata Bujang tersipu-sipu.

Kursi ditarik, siap duduk. Piring-piring sudah tersedia. Tudung saji dibuka, ada makanan lengkap tapi ala kadarnya. Sayur lempah darat, ikan asin, sambal belacan, sambal lingkung, tahu goreng, kerupuk dan, kebetulan, masih ada dendeng sapi oleh-oleh dari tetangga yang baru pulang dari Jawa. Suasana tidak kaku, karena hubungan bertetangga yang rukun dalam kesederhanaan kampung.

“Pak, saya sebenarnya malu pada Bapak dan Ibu,” kata Bujang setelah mereka kembali ke ruang tamu. Ada yang ingin diungkapkan atas desakan hati nuraninya.

“Ah, Nak Bujang ini pakai malu-malu segala,“ sahut istri Pak Dharto.

“Iya, Pak, Bu, saya malu sekali. Terus terang, saya pernah mengincar rumah Bapak ini. Beberapa kali saya sering mengitari rumah ini, melihat situasi dan saya mau mencuri di sini,” kata Bujang sambil menundukkan kepala.

“Orang-orang kampung ini selalu beranggapan bahwa keluarga Bapak dalam berkelimpahan. Makan serba enak, perabotan lengkap dan punya barang yang mahal dijual, “ lanjutnya pelan. Bujang masih terus mengeluarkan isi hatinya. Pak Dharto dan istrinya diam, menyimak serius dan tetap ramah.

“Di kampung ini, keluarga Bapak tidak pernah sedikit pun berhutang uang di tetangga. Justru Bapak tidak menahan tangan Bapak untuk memberi uang jajan waktu Bapak bertamu ke rumah tetangga yang sedang berlebaran. Seakan-akan ekonomi keluarga Bapak lebih berkecukupan dibanding kami.”

Ada banyak lagi yang diungkapkan oleh Bujang.

Alangkah malunya Bujang ketika Pak Dharto menanggapinya, “Bapak sudah tahu, Jang. Beberapa kali Bapak mengintip gerak-gerikmu di belakang rumah Bapak. Kamu juga kelihatan ragu-ragu, lalu pergi lagi.”

Muka Bujang jadi mirip tomat matang. Pak Dharto ternyata lebih dahulu mengetahui kegiatan mata-matanya, termasuk berkunjung ke rumah Pak Dharto adalah dalam rangka melihat dari dekat. Mungkin ada celah untuk bisa dimasuki, mungkin ada barang yang bis segera dibawa pergi. Rencananya sudah tersusun rapi, tapi ketahuan juga.

“Terakhir, kemarin, Jang. Waktu Bapak mau memberi makan buat ayam-ayam Bapak di kandang dan kamu ada di luar pagar belakang rumah Bapak, kamu seolah-olah tidak melihat Bapak. Tapi Bapak cuma bisa mengampunimu dan berbuat yang terbaik untukmu,” tambah Pak Dharto.

“Yang penting, sekarang Nak Bujang mau berubah, mau bekerja, bukannya ikut-ikutan menganggur dan membuat kesetiakawanan yang salah,” kata istri Pak Dharto.

“Benar, Bu, saya jera ikut-ikutan melakukan kejahatan. Saya dan kawan-kawan di kampung ini tidak pernah mau bekerja keras. Kami terbiasa mengambil milik orang lain seenak kami, padahal membelinya tidaklah gampang. Orang tua kami tidak melarang kami, padahal perbuatan kami sudah memalukan guru agama kami, meresahkan masyarakat dan termasuk kriminal. Di kampung ini memang anak-anak Bapak dan Ibu tidak pernah mau terlibat dalam aksi kami, walaupun mereka sering main bersama kami.”

“Jang, hidup memang tidak seenak ketika kita masih kecil dan segala kebutuhan diurus oleh orang tua,” Pak Dharto menasihati, “apalagi sekarang kebutuhan hidup sangat tinggi, sedangkan kemalasan meningkat pula akibat terpikat gaya hidup orang lain. Entah dari menonton televisi, entah pula mendengar kisah-kisah kawanmu sewaktu kalian nongkrong. Mungkin kemudian kalian mencari jalan pintas untuk memuaskan diri, tanpa peduli kesusahan orang lain yang telah bekerja keras siang-malam. Kamu lihat sendiri, Bapak terus bekerja keras walaupun sudah setua ini.”

“Iya, Pak, saya harus bekerja. Orang tua saya sudah tidak pantas membiayai saya yang cuma luntang-lantung sekaput ancup. Sekolah malas, bekerja tidak.”

“Kalau mau kerja, Nak Bujang tidak usah menilai gengsinya. Apalagi menganggur, mabuk-mabukan, main judi, meminta uang secara paksa dan mencuri itu jelas-jelas memalukan sebagai umat yang beragama,” kata istri Pak Dharto.

“Ketahuilah, Jang, mencuri sekecil apa pun sesungguhnya ukuran moralitas dan spiritualitasnya sama dengan pejabat-pejabat yang korupsi. Kecuali Presiden Rusia, Borris Yeltsin, yang melakukan korupsi, tidak perlu bingung soal moral agamanya. Dia ‘kan presiden negara komunis, yang tidak peduli pada Allah,” sambung Pak Dharto dengan nasihat lagi.

“Saat ini kamu baru berstatus tunakarya. Lalu kamu mencuri dengan bermacam-macam alasan. Andai kamu seorang pejabat, barangkali kamu akan mencuri kekayaan negara lebih besar lagi. Banyak alasan yang akan kamu pakai untuk menghalalkan tindak kriminal tersebut. Kekayaan tidak akan pernah memuaskan hati manusia, Jang. Dan mencuri, apa pun status sosialnya, tetap saja mencuri. Mau disebut maling, garong, menggelapkan atau korupsi, tetap saja akar moralnya sama. Allah memerintahkan kita bekerja, bukan mencuri atau ngompas. Kamu bisa membayangkan ke mana akhir hidupmu jika tiba-tiba kamu dibunuh oleh tuan rumah yang tidak bisa mengampuni aksi kejahatanmu terhadap rumahnya,” demikian akhir nasihat Pak Dharto.

Hari itu Bujang tidak lagi merasa tertuduh atau merasa bersalah berkepanjangan. Ada kekeluargaan yang besar di rumah Pak Dharto yang dirasakan oleh Bujang, lebih daripada ketika ia berkumpul dengan kawan-kawannya, sesama maling. Sejak hari itu, keluarga Pak Dharto dan Bujang bertambah akrab dalam kesederhanaan.

*******
Kado Ulang Tahun 5 November 1999
untuk Ykk.Ayahanda J. Slamet Sd.


(cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 6 Februari 2000)

7:04 AM

 
ORANG KAYA BARU

Pemuda udik bernama Oji adalah pemimpi yang mengkhayalkan hidup sebagai kenyataan yang menyenangkan. Namun dia berhasil menghidupkannya setelah dia dinyatakan memenangkan salah satu undian dalam pengumpulan bungkus-bungkus permen. Dia mendapat hadiah berupa jalan-jalan gratis selama tiga hari di pulau wisata. Tiket pesawat, penginapan dan uang saku sudah dikirimkan panitia. Lunas tanpa sisa.

“Ha ha ha ha…ternyata menjadi orang kaya itu sangatlah menyenangkan. Pantas saja orang-orang berambisi merenggut kekayaan, mempertahankannya. Kecuali orang-orang munafik, yang menolak kekayaan namun meminta-minta sumbangan.”

Begitulah kegirangan Oji sewaktu tiba di gerbang Hotel Bunga Bakung pada hari menjelang siang. Ternyata menjadi miskin dan tersuruk di gubuk lapuk itu hanya melesakkan sesak di dada legamnya. Dia sangat bosan, setiap hari terpojok dalam ejekan-ejekan berita serta kata-kata tetangga tentang indahnya kekayaan dan kemewahan itu. Kemiskinan telah membuat dunia Oji semakin sempit, semakin terjepit rasa minder dan iri melihat kegemilangan sekitarnya. Kemiskinan yang telah memuakkan Oji.

Selamat tinggal kemiskinan. Sekaranglah masa-masa awal menjadi orang kaya, meski ini baru tahap perkenalan suasana, batin Oji.

Taksi berhenti di depan pintu ruang masuk yang berkanopi. Segera seorang penerima tamu membantunya menurunkan barang bawaan Oji. Kemudian Oji masuk hotel melalui ruang lobby berlantai mengkilap tersebut. Penyambut tamu tadi menunjukkan arah menuju ruang informasi dan resepsionis. Tanya ini-itu, pesan kamar berdasarkan bukti dari panitia, dan dia mendapat sebuah kamar.

Kemudian seorang roomboy menyambut Oji. Itu pun karena terpaksa, sekaligus berharap tamu udik satu ini masih memiliki jiwa boros. Sebab menurutnya, pemborosan lebih mudah merasuki orang-orang udik yang merasa sok kaya atau orang kaya baru.

“Tolong angkat yang ini ya,” pinta Oji dengan lagak orang kaya yang sopan.

“Ya, Pak.”

Roomboy mengantarkan dan membantu mengangkut barang-barang Oji. Mereka menuju lift. Oji bingung, apalagi merasakan sebuah kotak bisa naik ke atas seperti film-film yang sering ditontonnya. Tapi dia pura-pura biasa, agar gengsinya tidak ambruk. Berhubung Oji belum sekali pun masuk-keluar hotel, panduan dari roomboy itu sangat berarti baginya. Dihapalkannya setiap jemari roomboy menekan tombol lift itu, agar dia tidak malu sendiri jika kebingungan di dalam hotel.

Wah, hebat betul hotel ini, puji Oji dalam hati. Hotelnya mewah, pegawainya ramah, pelayanannya bagus. Mudah-mudahan selalu dipenuhi penginap.

Dalam hati Oji terkagum-kagum sewaktu mereka melewati ruang demi ruang, kamar demi kamar. Suasananya mewah dan nyaman, tidak seperti di kampung Oji. Udaranya dingin, baunya wangi, lampu-lampu ruangannya tidak menyilaukan, bersih, beberapa hiasan dinding dan hiasan pojok ruangnya sangat indah. Kecuali lukisan kacau-balau. Maklum, dia baru pertama kali sungguh-sungguh masuk sebuah hotel.

Selama ini dia hanya melihat suasana hotel di televisi atau film-film. Selama ini dia hanya hidup di seputar kebun sahang, pasar ikan, sungai bekas galian penambangan darat, gubuk reyotnya dan kampung sunyinya. Mungkin di antara seluruh penduduk kampungnya bahkan diantara sejarah hidup seluruh keturunan kakek-neneknya, dia merasa baru dirinyalah yang pertama kali berhasil menerobos masuk hotel sampai mencicipi perjalanan awal menuju kemewahan seutuhnya nanti.

“Ini, Pak, kamarnya,” kata si roomboy setelah sampai di kamar pesanan Oji.

“Oh, iya, terima kasih,” Oji gugup sebentar. Segera Oji menenangkan diri, jangan sampai keudikannya tertangkap basah.

Roomboy juga yang membuka pintu kamar itu, membantu memasukkan barang-barang. Lalu ketika roomboy itu keluar, Oji langsung menutup pintu kamarnya sambil mengucapkan terima kasih.

Roomboy tadi tetap berdiri di dekat pintu kamar Oji sambil berpikir, “Mudah-mudahan tamu udik satu ini sedang membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar lima puluhan ribu dan akan memberikannya padaku.”

Tip atau bonus dari penginap merupakan istilah yang biasa bertebaran di kalangan roomboy. Setiap ada tamu, para roomboy segera menanti tugas dengan segudang impian menerima tip besar. Kalau berharap kesejahteraan dari gaji murni, mustahil sekali.

Saking terbiasanya istilah tip dan alasan gaji minim dalam pergunjingan sesama roomboy, dalam diri roomboy satu ini menjelma jadi pemburu tip. Pemburu tip, atau sebenarnya pengemis dalam bangunan mewah atau pelaku pungutan liar tingkat atas. Dia tahu tingkat keborosan penginap berdasarkan etnis atau asal negaranya. Tamu satu ini, si Oji, adalah salah satu bagian dari judinya, yaitu untung-rugi kalau melayani Oji.

Sebentar-sebentar dilihatnya jam tangannya. Tetapi tidak ada tanda-tanda tamunya ini bakal keluar dan memberikan ‘bonus’. Roomboy masih berusaha sabar. Baginya kesabaran selalu berguna. Ada rejeki yang tak terduga. Dan benar, dugaannya sia-sia.

“Dasar udik, pelit!” gerutunya setelah berkesimpulan bahwa Oji tidak memberi sepeser pun tip.

Sedangkan si penghuni kamar itu sedang benar-benar tidak tahu-menahu tentang tradisi memberi tip apapun. Sekali mengurusi administrasi dan urusan biaya menginap yang sudah ditanggung panitia undian, cukuplah itu. Soal bayar ini-itu, dia tidak tahu. Apalagi soal tetek bengek tip atau upah antar-angkat tadi. Oji hanya tahu bahwa roomboy tadi sangat ramah, bertanggung jawab pada tugasnya.

Mata Oji menyapu suasana kamar itu. Nampak ada dua tempat tidur. Disentuhnya. Empuk. “Sayang kalau satu sisa kasur tidak terpakai. Kelak tidur bergantian tempat tidur ah,” ujar Oji pada kesunyian kamar itu. Wajahnya tampak begitu riang.

Ditaruhnya barang-barang bawaannya di sebelah tempat tidur. Terus, Oji membuka jaketnya, sepatu, dan pakaiannya. Tinggal singlet dan celana pendek saja yang dipakainya. Dia merasa sisa-sisa keringat yang membasahi punggungnya tidak nyaman.

Oji naik ke tempat tidur. Perasaannya senang. Sejenak dia berbaring, menikmati empuknya kedua kasur hotel. Kemudian dia melompat ke tempat tidur sebelahnya.

Alangkah empuknya kasur hotel ini. Dua tempat tidur untukku sendiri. Alangkah nikmat, mewah hidup ini, pikir Oji.

Sambil berbaring lagak orang-orang kaya, dia membuka televisi dengan remot. Televisi menayangkan beberapa acara, karena tersambung langsung dengan antena parabola. Soal teknologi televisi dan parabola, bagi Oji bukan barang baru. Meski udik, kampung Oji tidak asing lagi dengan barang-barang elektronik masa kini, terlebih waktu musim panen sahang besar-besaran.

Puas menggenjot-genjot kasur empuk, Oji menuju kamar mandi. Mula-mula dia mengagumi tempat cuci tangan (wastafel) yang berkaca cermin besar. Oji kagum. Oji ingin memilikinya. Lalu pandangannya beralih ke pojok wastafel, tersedia sabun mandi, shampoo, odol, parfum, handuk, pembungkus rambut dan sandal kamar mandi.

Ada godaan untuk mandi. Lantas dia melirik ke ruang sebelahnya. Pelapis dinding kamar mandi itu mengingatkan dia pada beberapa rumah orang kaya di kampungnya. Dinding luar rumah-rumah itu dilapisi keramik seperti kamar mandi hotel ini

Hihihii..kamar mandi terbesar ada di kampung kami, guman Oji sambil tersenyum. Dasar orang udik, tidak bisa memilih bahan bangunan yang cocok.

Oji melangkah masuk. Ada bak mandi berendam (bathtube) dan ruang mandi hujan (shower). Oji mencoba menghidupkannya. Lalu, serrrrr…air mengucur dari shower dan bathtube.

Aha! Mandi, mandi, mandi…, tawa riang Oji.

Juga tombol-tombol tertentu, berwarna merah dan biru. Oji penasaran. Dicobanya setiap tombol, dan…air pun berubah kondisinya. Bisa panas, bisa dingin.

Wah, asyiknya komplit nih, nggak perlu nunggu dijerang dulu, batin Oji.

Seketika itu pula selera mandinya bangkit. Maka mandilah dia sepuas-puasnya, dari mandi hujan hingga berendam. Nyaris satu jam dia menikmati kamar mandi hotel yang, baginya, begitu mewah. Berendam pun sambil membaca kayak film-film.

Besok pagi aku akan mencoba berenang di kolam renang hotel ini. Tentu lebih aduhai daripada di sungai pemandian kampung kami, pikirnya.

Semua yang disuguhkan di pojok wastafel tadi dipakai Oji. Selanjutnya dia keluar. Sambil masih berbelit handuk, Oji menuju jendela. Dibukanya lebar-lebar gordin jendela. Terpampanglah panorama kota yang sangat megah. Gedung-gedung menjulang, gagah. Kendaraan lalu lalang, kapal terbang pun naik-turun terus. Sungguh-sungguh kota hidup.

Amboi, indah nian kota besar ini, teriak batin Oji.

Oji teringat kawannya yang suka mencaci maki globalisasi kapitalisme, namun begitu pelit mengeluarkan duit hingga tidak bisa menikmati indahnya kapitalisme. Kawannya itu selalu mengejek kemewahan dan menuding kemewahan duniawi sebagai jerat yang berbahaya.

Hari masih terang dan waktu masih panjang. Perutnya terasa sedang unjuk diri, minta diisi. Segera dia mengeluarkan pakaian barunya. Sepatu sandal barunya pun disiapkan. Usai berpakaian rapi, Oji keluar dari kamarnya, menuju ke ruang makan hotel. Tapi dia harus bertanya sana-sini dulu, karena dia tidak tahu arti kata “the dining room”.

Di sana Oji disambut oleh beberapa waitress cantik. Oji memilih duduk di pinggiran diantara kumpulan meja itu. Piring-piring telah siap. Ada lilin, batangan tusuk gigi, dan rempah-rempah tambahan seperti bubuk sahang, garam, saos. Di atas piring ada hiasan berbentuk topi melayu, menjulang.

“Ini daftar menunya, Pak,” kata seorang . “Silakan Bapak pilih pesanan Bapak.”

Oji bingung. Makanannya serba asing, susah nyebutnya. Tidak ada lempah darat. Tidak ada sayur nanas. Tidak ada ikan ciew. Dia membalik daftar menu itu, terlihat menu Indonesia. Yang paling dikenalnya adalah gado-gado. Segera waitress muda nan cantik tadi menuliskan apa yang disebutkan oleh Oji.

Tak berapa lama pesanan Oji datang, dibawa oleh dua orang. Salah seorang membawa makanan tersebut, lainnya menaruh di meja Oji. Yang menaruh makanan tadi pun menyerahkan bon yang harus dibayar Oji.

“Ini pesanan Bapak, dan ini bonnya. Selamat menikmati sajian restoran ini, Pak,” katanya ramah dengan senyum manis.

“Terima kasih,” sahut Oji.

Alamak, seru batin Oji. Hanya sepiring gado-gado dan segelas es soda, harganya mahal sekali. Kalau di kampungku, paling-paling harga sekitar seperempatnya saja. Waduh, ini restoran atau rumah lintah darat sih. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Oji pura-pura tidak canggung. Disiapkannya piringnya, peralatan makan dan bumbu-bumbu tambahan tadi. Tak lupa Oji minum dulu, agar kecanggungan segera tertelan. Glek. Satu teguk, seperti orang kaya di film-film itu. Lantas, ‘hiasan’ di atas piring yang berbentuk topi melayu itu disingkirkannya ke samping piring.

Tiba-tiba seorang waitress mendekati mejanya, mengambil ‘hiasan’ meja berbentuk topi melayu tadi. Dibukanya setiap lipatan, lalu diletakkannya di pangkuan Oji.

“Maaf, ya, Pak,” kata perempuan muda itu seraya tersenyum manis.

Ternyata lembaran kain itu adalah pelindung baju terhadap tumpahan atau cipratan makanan. Betapa malunya Oji, hingga dia merasa ruang makan mewah itu tidak ubahnya sebuah akuarium raksasa atau panggung penelanjangan yang memalukan.

Tapi Oji berusaha tenang, dan mulai mencicipi gado-gado bikinan hotel. Dia terkejut, karena rasa gado-gado hotel berbeda dengan gado-gado yang sering dibelinya di kampungnya. Tidak sesuai standar lidahnya. Makanya dia tidak mau berlama-lama di ruang makan mewah tersebut. Disamping rasa gado-gado begitu aneh bagi lidah udiknya bahkan tiba-tiba perutnya terasa nek/penuh, juga karena Oji sudah mencicipi rasa malu tadi. Santapan belum habis, Oji langsung saja menuju kasir dan keluar ruang tersebut.

Begitu dia keluar, rasanya semua mata orang di sana telah menempel di kuduknya. Untuk menenangkan diri, dia menuju ruang lobby. Dia ingat, masuk pertama tadi di ruang ini tersedia beberapa koran terbaru. Sembari matanya menyapu setiap bidang ruang, gerak-gerik jalannya dibuat gagah. Kesan acuh tak acuh sengaja diperankannya seperti film-film yang pernah ditontonnya. Beberapa penginap yang berpapasan dengannya pun tidak digubrisnya, demi status barunya dan agar tidak ketahuan udiknya.

Hingga menjelang malam, waktu-waktu dihabiskan Oji di dalam hotel Bunga Bakung itu. Dia sengaja merekam setiap sudut secara rinci, supaya kelak bisa dia kisahkan ulang dengan penuh kebanggaan tak terkira di hadapan kawan-kawannya di kampung. Setelah itu, kembali dia berlama-lama dalam kamar mandi, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikmati malam di kota ini.

Oji membuka paket wisata pertama di kota ini. Wisata malam, yaitu menikmati pemandangan malam kota melalui menara tertinggi di kota itu, kemudian di diskotik pantai pinggir kota. Tiket menonton pertunjukan malam dan tanda bebas menikmati minuman pun tersedia dalam satu paket. Paket berikutnya, besok, mungkin ke museum, bangunan bersejarah, pantai, dan lain-lain. Namun dia belum tahu di mana letaknya.

Lantas dia membeli peta kota di kios kecil milik hotel. Ternyata tempat wisata itu memang tidak jauh dari tempatnya menginap. Segera dipersiapkannya barang bawaan seperti kamera, walkman, dan uang saku. Barang-barang itu tentu saja dibawanya, karena juga demi keamanan. Dia pernah menonton film tentang pencurian di dalam kamar hotel.

Malam baru menjelang, Oji keluar keluar hotel untuk menikmati malam di kota itu. Oji memilih berjalan kaki saja, sebab di peta tertera jarak yang tidak jauh. Dia memang terbiasa jalan kaki, kali ini sekaligus menikmati suasana malam kota besar.

Transportasi kota berseliweran. Daerah komersial menampilkan panorama warna-warninya. Orang-orang hilir-mudik di daerah tersebut. Pakaian mereka modis-modis, mirip para bintang film. Mobil-mobil mewah lalu lalang secara teratur mirip suasana kota metropolitan di luar negeri. Nampaknya malam belum juga sampai di kota ini.

Oji menikmati sekali. Matanya terbinar-binar. Panorama dan nuansa yang tak akan pernah ada di kampungnya. Tak henti-hentinya Oji kagum, terkesima, terpesona. Seketika dia lupa kampung halamannya. Dia lupa bahwa dia berasal dari udik, lupa berada di kota besar ini hanya untuk tiga hari, lupa akan kembali ke udik.

Termasuk ketika dia melintasi taman kota. Dalam lampu temaram, keindahan malam tercetak jelas. Orang-orang memanfaatkan taman kota tersebut seperti halnya sebuah tempat hiburan. Beberapa kumpulan terdiri atas laki-laki dan perempuan, nampaknya remaja, bercanda di sana. Juga beberapa kelompok lainnya.

Menjelang ujung taman itu, Oji berpapasan dengan beberapa pemuda. Dengan gaya laksana orang kaya, Oji melangkah gagah. Tanpa disadarinya, sontak beberapa pemuda tadi menghadangnya. Clurit dan belati berkilauan. Dua orang maju, segera mencekal tangan Oji. Dari arah belakang Oji, dua orang pemuda lainnya menodongkan senjata. Oji tak kuasa berteriak karena clurit sudah siap singgah di kulit lehernya.

Oji terkejut, antara sadar dan tidak. Pikirannya hilang seketika. Bandit-bandit tengik itu segera menelanjangi Oji habis-habisan. Seluruh tiket perjalanan atau masuk tempat wisata serta uang saku dari panitia amblas, dan juga uang titipan para tetangga yang minta dibelikan oleh-oleh. Karena Oji membawa semuanya itu dan menaruhnya di saku celana, tas pinggang dan jaket barunya. Seluruh benda-benda serta pakaiannya barunya disikat tanpa sisa, kecuali celana panjangnya yang sudah basah kuyub.

Tinggal Oji terduduk lemas setelah para bandit itu pergi. Tatapannya kosong, tak habis mengerti dengan apa yang nyata dialaminya. Mimpikah?

*******
jogja, september 2001

[cerpen ini pernah dimuat di harian Bangka Pos, 23 Desember 2001]


7:03 AM

 

©2003 Agustinus Wahyono
HP No.: 081328704184